Wearable Computing – Aitinesia 2013 Information Technology Outlook – Bagian 3

Sebagaimana yang pernah kami bahas disini, dunia IT nampaknya tengah menyongsong pergeseran tren dalam penggunaan teknologi, khususnya teknologi mobile. Dimulai dengan Google bersama Project Glass-nya, perusahaan lain sekelas Apple dan Microsoft-pun dikabarkan ikut dalam perlombaan ini. Bahkan, sebagaimana dibahas pada outlook bagian 1, kedua perusahaan tersebut tengah mematenkan pesaing Project Glass.

Selain perangkat komputasi berbentuk serupa kacamata, perusahaan-perusahaan diatas juga mengembangkan perangkat smartwatch. Samsung sebagai raksasa industri smartphone-pun kabarnya ikut serta. Tren yang demikian, dimana para vendor berlomba-lomba untuk menghadirkan perangkat pintar yang dapat kita kenakan, atau mudahnya kita sebut wearable computing, disinyalir dapat mengkahiri riwayat dari smartphone.

Ketika perusahaan-perusahaan sekelas Google, Apple, Microsoft dan Samsung yang merupakan pemain utama di industri smartphone berlomba-lomba mengembangkan wearable computing, tidak heran apabila ada yang memprediksi pergeseran tren dari smartphone  ke wearable computing (we kinda one of them… sort of…). Namun akankah demikian? Kami meragukannya.

Memang, konsep mengambil foto dan mendapatkan kabar/notifikasi dari kacamata dan jam tangan adalah konsep yang menarik. Namun tidak terlalu menarik sampai-sampai akan menggeser tren smartphone. Kita belum akan mengucapkan selamat tinggal kepada smartphone, setidaknya tidak dalam jangka waktu dekat (but then again, who knows..). Hal ini kami simpulkan dari tren smartphone yang semakin “membesar”.

Tren ini bisa dibilang dipimpin oleh Samsung dengan seri Galaxy-nya yang semakin membesar dalam ukuran layarnya (disinggung disini). Ditambah lagi perkembangan tablet yang masih belum bisa dibilang meredup. Ini mengindikasikan pasar masih menginginkan perankat untuk menyajikan konten dalam layar yang besar. Hal tersebut sulit didapatkan dari wearable computing saat ini.

Ada poin menarik yang disampaikan Skooks Pong, VP of Technology Synapse, kepada Business Insider  “The wearables don’t have enough power to do what a smartphone does today.”  Orang-orang juga terbiasa menggunakan jam tangan yang tidak perlu dicharge dan dapat digunakan selama setahun sampai harus mengganti baterainya, lanjut Pong. Intinya, menurut Pong, wearable computing akan semakin marak ketika pengguna tidak harus melakukan pengisi ulangan daya dalam waktu yang singkat-harian misalnya. Bayangkan, rerata smartphone sekarang yang tidak sampai satu hari bertahan tanpa recharge, tampaknya perlu beberapa waktu lagi sampai kita bisa mendapatkan perangkat komputasi yang dapat bertahan selama seminggu dengan sekali charge.

Namun demikian bukan berarti produk semacam Project Glass Google tidak akan laku dipasaran. Produk sejenis itu tetap memiliki daya tarik dan keunikan sendiri yang dapat menarik minat pembeli, khususnya apa yang aitinesia sebut dengan HGWLCAMTS (hardcore geek with little consideration about the money they spent). 

Aaaaanyway…, let’s see what the future may bring while enjoying an awesome example of wearable computing: Iron Man 3 :)

galihpermadi

Editor aitinesia. Kalo lagi ga sibuk ngurusin aitinesia, biasanya doi sibuk ngurusin badan. Gemar cabang-cabang olahraga menantang seperti Catur dan Monopoli.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>