Uniknya Kampanye Pemasaran yang Dilakukan One Plus

One Plus One

Semenjak mulai menjalankan bisnisnya di akhir tahun 2013, One Plus telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di pasar smartphone dunia. Di tengah keperkasaan Samsung, Apple, dan LG, One Plus hadir sebagai sebuah perusahaan kecil yang begitu mengutamakan kedekatan mereka dengan customer. Mereka pun terkenal dengan komunitas ‘underground’ mereka yang begitu loyal terhadap merek One Plus.

One Plus didirikan oleh Pete Lau, mantan wakil presiden Oppo. Pete membawa sebuah pemikiran kalau para penggemar smartphone harus disajikan dengan sebuah smartphone yang setara kualitasnya dengan smartphone-smartphone kelas atas (high end), namun dengan banderol harga yang lebih murah. Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, Pete pun menjalin kerjasama dengan Cyanogen Inc., sebuah perusahaan yang memodifikasi sistem operasi Android menjadi bentuk baru yang lebih canggih, yang bernama CyanogenMod. Kami telah membahas tentang menariknya CyanogenMod dalam artikel berikut. Berbekal spesifikasi produk smartphone yang berkualitas dan sistem operasi berbasis CyanogenMod, One Plus pun memulai petualangannya menjelajahi pasar smartphone dunia. Saat ini, mereka telah hadir di lebih dari 35 negara di dunia, termasuk Indonesia.

One Plus, Perusahaan Tanpa Dana Pemasaran

Carl Pei, co-founder dari One Plus, pada tanggal 8 Juli 2015 kemarin menulis sebuah postingan blog yang menekankan tentang bagaimana sebenarnya One Plus melakukan kampanye pemasaran mereka. Di awal kemunculan One Plus, Carl menekankan kalau mereka sama sekali tidak mempunyai dana pemasaran. Karena itu mereka memulai dengan membuat sebuah forum online dan akhirnya sukses menyebarkan nama mereka dari mulut ke mulut. Untuk menjaga ketersediaan barang, mereka memberlakukan sistem ‘invite’, di mana hanya pengguna yang telah diundang oleh pengguna lain saja yang bisa masuk ke dalam forum mereka, dan membeli produk mereka. Dan hasilnya, lebih dari kata memuaskan. Mereka berhasil dikenal oleh banyak orang, dan akhirnya sukses menghadirkan One Plus One, produk smartphone pertama mereka, ke tangan banyak pelanggan.

Sejak itu, menurut Carl, banyak sekali akademisi yang mengatakan kalau mereka tertarik untuk mengajarkan sistem pemasaran One Plus di bangku perkuliahan. Bahkan, beberapa kampus dikabarkan telah memasukkan sistem pemasaran One Plus ke dalam kurikulum mereka. Sebuah kabar yang sangat menggembirakan bagi perusahaan yang relatif mungil seperti One Plus.

Dan sekarang, seiring dengan strategi perluasan pasar dan persiapan launching produk baru mereka, One Plus Two, One Plus mulai menambahkan sedikit demi sedikit dana pemasaran mereka. Dari yang sebelumnya $ 0, mereka pun menaikkan dana pemasaran menjadi $ 300, yang kemudian mereka tambahkan lagi menjadi $ 10.000, dan begitu seterusnya. Namun satu hal yang menjadi pedoman One Plus, adalah mereka harus menjaga dana pemasaran itu agar tetap kecil, demi menjaga harga produk mereka seminim mungkin. Oleh karena itu, Carl menegaskan kalau One Plus akan terus menjadi fenomena dan melakukan kampanye pemasaran yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain.

Spesifikasi vs Fenomena

Namun di balik kesuksesan yang diraih One Plus, banyak pihak yang meragukan kalau strategi pemasaran yang dilakukan One Plus bisa menjamin keberlangsungan bisnis mereka di masa depan. Salah satunya adalah John Anon, Head Editor dari Android Headlines, sebuah website yang bahasan utamanya adalah tentang perkembangan Android dan smartphone yang menggunakan sistem operasi Android. John, yang juga merupakan salah satu pengguna dan penggemar smartphone One Plus, mengatakan kalau One Plus layak bangga karena produk mereka terbukti bagus dan mengundang banyak orang untuk membelinya. Namun, John menyayangkan karena One Plus terus menerus berusaha menjual sebuah ‘fenomena’, bukan menjual sebuah produk yang akan terus menerus diinginkan oleh masyarakat. John pun menambahkan kalau cara berjualan seperti ini, akan menghambat perkembangan mereka di masa depan.

Pernyataan John Anon bukannya tanpa bukti, pembaca bisa melihat sendiri ketika membuka penjelasan mengenai One Plus di Wikipedia, di mana akan ada lebih banyak penjelasan mengenai kontroversi-kontroversi yang dibuat oleh One Plus, dibanding dengan penjelasan mengenai produk-produk mereka. Ada penjelasan tentang bagaimana One Plus mengajak pengguna smartphone untuk membanting / merusak smartphone lama mereka demi mendapatkan smartphone One Plus One hanya dengan harga $ 1. Kampanye ini kemudian dikritik karena bisa berakibat pada kerusakan lingkungan dan bahaya kesehatan terhadap pemilik smartphone. Kampanye lain dari One Plus yang juga dikritik adalah ketika mereka mengajak para anggota perempuan di forum mereka untuk memposting foto selfie dengan logo One Plus, yang kemudian akan dipilih oleh para anggota forum yang lain.

Ladies First, Salah Satu Kampanye 'Buruk' One Plus

Ladies First, Salah Satu Kampanye ‘Buruk’ One Plus

Berbagai kampanye ‘buruk’ ini merupakan beberapa bukti bagaimana One Plus lebih menjual fenomena, dibanding menjual spesifikasi baik dari smartphone mereka. Bagaimana sebenarnya sebuah brand menjual spesifikasi? Samsung telah melakukannya dengan menjual kemampuan produk Galaxy Note mereka dalam mencatat sesuatu, kemudian Apple juga telah membuat kampanye global tentang betapa bagusnya kamera mereka, dan masih banyak lagi contoh-contoh kampanye pemasaran lainnya yang fokus pada menjual spesifikasi. Lalu bagaimana dengan One Plus? Mereka malah merilis spesifikasi produk terbaru mereka, One Plus Two, dengan cara terputus-putus selama beberapa minggu. Bukankah cara ini cenderung hanya berguna untuk membangkitkan rasa penasaran masyarakat, tidak untuk mengenalkan kemampuan utama produk mereka secara keseluruhan.

Akankah One Plus Bertahan Dengan Kampanye Pemasaran Mereka?

One Plus dan Xiaomi sebenarnya hanya berbeda usia sekitar 2 tahun (Xiaomi pertama kali menjual produk mereka pada tahun 2011), namun beda tingkat di antara keduanya saat ini bagaikan bumi dan langit. Padahal, keduanya memulai bisnis dengan cara yang sama; membuat forum online, menjual produk murah namun berkualitas, menjadi fenomena dari mulut ke mulut. Namun sejak dikenal oleh masyarakat, Xiaomi memutuskan untuk lebih gencar membuat kampanye marketing yang luas dan berfokus pada kelebihan-kelebihan produk mereka. Xiaomi kini sudah menjadi brand global yang tidak lagi fokus pada komunitas kecil mereka, dan itu menjadikan mereka bisa terbang tinggi hinggi bisa menyaingi keperkasaan Smasung, Apple, dan produsen-produsen besar lain.

Promosi One Plus Two yang Terputus-Putus

Promosi One Plus Two yang Terputus-Putus

Sementara bagaimana kabar One Plus saat ini? Mereka masih berkutat dengan forum kecil mereka dan terkesan enggan untuk mempublikasikan berita secara eksklusif di blog-blog teknologi terkenal. Sudah saatnya bagi One Plus untuk berubah, terlebih karena mereka tengah bersiap untuk meluncurkan produk terbaru mereka, One Plus Two. Apabila mereka tidak juga berubah, nama mereka sepertinya hanya akan menjadi sejarah di hati para anggota forum mereka.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>