Uber vs Lyft, Perang Startup Penyewaan Mobil di Amerika

Uber Lyft

Uber dan Lyft sebenarnya adalah dua startup dengan bisnis yang serupa. Selain mereka masih ada startup lain yang juga melakukan bisnis yang sama seperti Gett, dan lain-lain, namun Uber dan Lyft adalah dua startup yang paling terkenal di bisnis tersebut. Seperti apa bisnis mereka? Mereka menyediakan sebuah mobil, lengkap dengan supirnya, yang bisa dipanggil lewat aplikasi mobile untuk mengantarkan penumpang ke tempat lain. Sangat mirip seperti ketika kita hendak memesan taksi secara online di Indonesia.

Ketika ada beberapa startup dengan bisnis yang sama, sudah pasti akan ada persaingan di dalamnya, dan itu juga yang terjadi dengan Uber dan Lyft. Yang menarik adalah, mereka menggunakan cara-cara yang tak biasa untuk menjatuhkan saingannya.

Uber – Pesan dan Batalkan

Bayangkan apa yang terjadi ketika ada seseorang yang memesan mobil lewat startup penyewaan mobil seperti yang saya sebutkan di atas, kemudian ia membatalkannya tepat ketika mobil yang ia pesan hampir sampai untuk menjemputnya. Pelayanan startup penyewaan mobil seperti itu pasti sedikit terganggu, karena ketika sebuah mobil dipesan, maka orang lain tidak akan bisa memesannya. Bayangkan kalau kejadian seperti itu terjadi ratusan kali dalam waktu yang bersamaan.

Dan itulah yang dilakukan Uber. Mereka dengan sengaja menyewa mobil saingan mereka, kemudian membatalkannya. Ratusan pegawai Uber bahkan dikerahkan untuk melaksanakan ‘misi rahasia’ ini. Hal ini mirip dengan serangan Distributed Denial of Service (DDoS), pengerahan permintaan akses secara massal untuk membuat sebuah website menjadi kelebihan beban dan akhirnya harus berhenti beroperasi (down).

Uber – Merayu untuk Pindah

Kekuatan sebuah startup penyewaan mobil, ada pada ketersediaan armada untuk melayani masyarakat. Karena itu, cara lain yang digunakan Uber untuk menjatuhkan startup pesaing mereka adalah dengan merayu pengemudi yang bekerja untuk pesaing mereka untuk berpindah ke Uber. Mereka bahkan mengiming-imingi mereka dengan voucher bensin sebesar 50 Dollar dan bonus perekrutan jika para pengemudi itu setuju untuk bekerja di Uber.

Bahkan, Uber secara terang-terangan mengirim pesan kepada pengemudi saingan mereka untuk datang ke kantor mereka dan berpindah tempat kerja. Bagaimana mereka mengetahui nomor si pengemudi? Kebetulan fitur tersebut memang disediakan oleh saingan mereka untuk memudahkan pelayanan

Uber – Memasang Iklan Provokatif

Uber - Shave a Stach

Merasa belum cukup dengan semua cara di atas, Uber bahkan mencoba untuk memasang iklan provokatif di badan sebuah truk, kemudian menjalankannnya mengelilingi kota. Mereka pernah memasang iklan yang mengatakan “Shave The Stache” atau “Cukur Kumismu”, sebagai isyarat untuk para pengemudi milik sebuah startup yang bernama Lyft untuk meninggalkan startup tersebut dan beralih ke Uber. Lyft memang mengenakan bentuk kumis sebagai logo mereka.

Lyft – Membalas dengan Iklan Provokatif

Lyft - More Than a Number

Merasa sedikit ‘ditantang’, Lyft pun kemudian memberikan serangan balasan dengan iklan provokatif juga. Mereka pun memarkir sebuah truk di depan kantor Uber di San Fransisco. Truk tersebut bertuliskan “Be More Than a Number”, sebagai isyarat kalau seorang pengemudi pindah ke Uber, mereka hanya akan diperlakukan sebagai ‘angka’, sebagai buruh, bukan sebagai rekan bisnis. Lyft selama ini dikenal sebagai startup yang sangat mengayomi pengemudi-pengemudi mereka. Menurut mereka, cara itu bisa menginkatkan etos kerja para pengemudi yang akhirnya bisa memuaskan pelanggan

Hal-hal di atas memang terkesan buruk dan jahat. Tapi pelanggan tidak mau tahu dengan hal-hal tersebut. Pelanggan hanya menginginkan layanan penyewaan mobil yang cepat, nyaman dan murah, tak peduli apa yang dilakukan para startup tersebut di belakang layar. Namun seharusnya, sebagai pebisnis, kita juga harus tetap memperhatikan etika-etika yang berlaku, agar bisnis kita juga tidak mendapat pandangan (image) buruk dari masyarakat.

Sumber Gambar : techcrunch.com


adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>