Uber Tidak Akan Bisa Sukses di Indonesia, Kecuali Bila …

Uber in Jakarta

Dengan pemecahan rekor pendanaan sebesar 1.2 Miliar Dollar, Uber benar-benar mengguncang dunia. Startup yang dipimpin oleh Travis Kalanick ini kini bernilai sangat tinggi, hingga mencapai 18.2 Miliar Dollar, hampir menyamai nilai pembelian WhatsApp oleh Facebook beberapa bulan yang lalu. Uber sendiri adalah sebuah startup penyedia layanan penyewaan kendaraan, lengkap dengan supirnya, yang bisa mengantarkan anda ke mana saja. Bisnis Uber ini hampir persis dengan bisnis taksi yang ada di Indonesia.

Beberapa hal yang membedakan Uber dengan taksi-taksi biasa adalah cara pemesanan dan sistem pembayarannya. Untuk pemesanan taksi Uber, kita bisa menggunakan aplikasi mobile, sedangkan untuk pembayaran kita bisa menggunakan kartu kredit. Saat ini, Uber telah melakukan ekspansi ke kota-kota di Asia Tenggara seperti Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok. Sebuah pertanyaan pun menggelitik kita semua, kapan Uber akan sampai di Indonesia?

Uber sebenarnya sadar betul akan potensi bisnis transportasi di Indonesia, khususnya di ibu kota Jakarta. Jutaan orang hilir mudik mengelilingi Jakarta setiap harinya. Karena itu, sejak beberapa bulan yang lalu, mereka tampak mulai melakukan perekrutan sumber daya manusia untuk kantor cabang mereka di Indonesia. Bahkan mereka pun telah mempunyai pelanggan pertama yang tak lain merupakan salah satu orang terkaya tanah air, Sandiaga Uno. Dia mengungkapkannya dalam sebuah tweet yang bisa anda lihat pada gambar di bawah ini.

Uber Jakarta

Jadi, tampaknya Uber sudah benar-benar siap untuk hadir di Jakarta. Tapi apakah Uber akan menuai kesuksesan di Indonesia, seperti mereka mendapatkannya di Amerika Serikat? Menurut saya tidak. Mengapa begitu?

Moda Transportasi Jakarta Semakin Banyak

Pemerintah Jakarta saat ini tengah getol membangun infrastruktur transportasi massal. Moda transportasi yang telah ada seperti bus transjakarta, kereta commuter line, hingga bus kopaja mereka perbaiki. Di samping itu mereka juga tengah membuat sistem Mass Rapid Transit (MRT) dan Monorail. Semakin baik moda transportasi massal tersebut, maka makin banyak orang yang tak perlu menggunakan taksi.

Kemacetan yang sangat parah di Jakarta juga membuat banyak orang kurang suka menggunakan taksi. Sekalipun sedikit kurang nyaman, menggunakan TransJakarta, Commuter Line, dan (bila sudah selesai dibangun) MRT pasti akan jauh lebih cepat mengantarkan penumpang ke tujuan. Bahkan di Jakarta saat ini sedang berkembang komunitas ‘nebeng’, di mana kita bisa menumpang pada orang lain yang kebetulan sedang memakai kendaraan dengan tujuan yang sama dengan kita, semua lewat jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Pilihan Taksi yang Juga Banyak

Walaupun pilihan transportasi massal kian banyak, namun ada juga beberapa orang yang harus menggunakan taksi untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak terjangkau angkutan umum, atau harus sampai dalam waktu cepat. Untuk mereka, di Jakarta sudah melimpah pilihan taksi beragam nama dan warna. Bila kita berada di pusat kota Jakarta, kita tak akan perlu waktu lama untuk mendapatkan taksi, tak perlu sibuk-sibuk memesan lewat aplikasi smartphone.

Perkembangan Taksi Lokal

Bila Uber membanggakan diri dengan aplikasi pemesanan dan sistem pembayaran yang lebih keren, jangan salah, industri taksi lokal juga bisa melakukan hal itu. Banyak di antara perusahaan taksi lokal yang sudah mempunyai aplikasi pemesanan online, dan setiap armada mereka juga sudah bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit dan debit. Lalu, mengapa kita harus pakai Uber?

Uber Hanya Melayani Taksi Eksklusif

Uber dikabarkan hanya akan memasuki bisnis taksi-taksi eksklusif seperti Silver Bird. Seperti kita tahu, pengguna taksi-taksi seperti itu hanyalah orang-orang tertentu yang bisa membayar lebih. Kebanyakan warga Jakarta lebih suka yang murah, termasuk soal transportasi. Andaikata Uber bisa sukses, maksimal mereka hanya akan merebut posisi Silver Bird sebagai penguasa bisnis taksi eksklusif.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Uber Ingin Sukses?

Saat ini Uber punya banyak sekali uang, apalagi ditambah kedekatan mereka dengan Google. Apabila mereka ingin serius menguasai pasar taksi di Jakarta, menurut saya mereka harus mengakuisisi sebuah perusahaan taksi besar, Express misalnya. Bila harga untuk membeli dirasa terlalu mahal, mereka bisa membeli sebagai perusahaan tersebut, dan menyediakan solusi teknologi seperti sistem pemesanan dan pembayaran.

Uber juga bisa sukses apabila mereka diperbolehkan menggunakan embel-embel Google untuk taksi mereka. Masyarakat di Jakarta banyak yang tahu Google, tapi sama sekali buta dengan Uber. Alih-alih mereka akan salah mengartikannya sebagai sebuah kompetisi olahraga bulutangkis yang begitu populer di sini.

Sumber Gambar : taipeitrends.com


adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. andy says:

    bagi yg ingin mendaftar Uber baik secara individu ataupun di bawah bendera rental silahkan hubungi pin bb 5a160760 tanpa antri, tanpa ribet, langsung aktif…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>