Twitter’s Way – Buy to Kill

Mengawali tahun 2013, kita dikejutkan dengan berita tentang akan ditutupnya 2 startup yang sebelumnya telah diakuisisi oleh Twitter, Posterous dan Tweetdeck. Mengapa mengejutkan? Karena sebenarnya kedua startup ini sudah memiliki komunitas pengguna yang banyak, terlalu besar untuk ditutup begitu saja. Apa sebenarnya yang diinginkan Twitter?

Posterous adalah sebuah penyedia layanan blog terkenal yang mulai muncul 5 tahun lalu. Sejak itu, namanya terus melambung hingga mencapai 15 juta pengguna setiap bulannya. Posterous pun akhirnya diakuisisi oleh Twitter pada 12 Maret 2012. Di bulan Februari tahun ini, Twitter tiba-tiba mengumumkan kalau mereka akan menutup layanan Posterous pada 30 April 2013. Untungnya, Sang Co-Founder, Garry Tan langsung bertindak cepat dengan membuat fitur untuk memindahkan semua data pengguna ke WordPress atau SquareSpace, dan menyediakan layanan blogging baru yang bertajuk PostHaven.

Senada dengan Posterous, Tweetdeck juga telah dikenal sebagai tool yang cukup mumpuni bagi para pengguna Twitter, terutama bagi mereka yang punya kepentingan untuk selalu aktif memantau perkembangan dunia Twitter. Para admin akun-akun perusahaan besar dan semisalnya, bisa menggunakan Tweetdeck untuk mengatur beberapa akun secara sekaligus, dan memantau beberapa tema yang beredar di Twitter dalam waktu yang bersamaan. Kini, Twitter memutuskan untuk memfokuskan Tweetdeck dalam bentuk Web, dan menghapus layanan Tweetdeck AIR, Tweetdeck for Android dan Tweetdeck for iOS pada tanggal 7 Mei 2013. Sinkronisasi Tweetdeck dengan Facebook juga akan hilang untuk selamanya.

Ditutupnya kedua startup tersebut menimbulkan spekulasi tentang ‘cara bermain’ Twitter dalam mengakuisisi startup lain, yang terkesan ‘Buy to Kill’ (membeli untuk mematikan). Mungkin Twitter bisa mengatakan kalau startup-startup tersebut akan tetap ada, dalam bentuk berbeda, yang lebih bersahabat dengan Twitter pastinya. Tapi patut diingat kalau kelangsungan hidup sebuah startup dalam bentuk aslinya juga sangat penting, apalagi untuk para pengguna yang telah begitu lama memakai layanan tersebut.

Masih teringat oleh kita betapa dekatnya Twitter dengan Instagram beberapa tahun belakangan, hingga muncul spekulasi kalau akan bergabungnya Instagram dengan Social Media berlogo burung biru tersebut. Kita juga melihat betapa kecewanya CEO Twitter ketika mendengar berita pembelian Instagram seharga 1 Milyar US$ oleh Facebook, sampai-sampai dia langsung menutup akun pribadinya di Instagram. Lalu apa yang terjadi hingga Instagram akhirnya memilih ‘berselingkuh’ dengan Facebook? Apa mungkin gaya Twitter yang terkesan Buy to Kill menjadi salah satu alasannya? Mungkin saja …

Sumber Gambar :

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>