Traveler ini Bangkit Dari Kegagalan Startup Pertamanya, Hingga Berhasil Meraih Pendanaan 1 Juta Dollar

Tripvisto

Berawal dari hobi travelling yang digelutinya sejak tahun 2005, Bernardus Sumartok melihat sebuah peluang bisnis yang besar. “Susah sekali mendapatkan local guide atau local tour operator yang bisa dipercaya ketika harus traveling ke daerah yang relatif belum mainstream. Begitu bertemu local guide yang bagus, ternyata mereka ini kebanyakan pengusaha travel kecil tapi memiliki passion dan dedikasi yang tinggi,” ujar Sumartok. Pemikiran tersebut membawa Sumartok untuk mendirikan Flamingo pada tahun 2011, dengan niatan untuk membantu para local guide tersebut menggunakan fasilitas internet. Flamingo sendiri merupakan marketplace khusus untuk paket tur yang mengumpulkan para local guide tersebut, dan menjualnya kembali dengan harga yang kompetitif.

Sayangnya, Flamingo akhirnya harus tutup di tahun 2012. Lamanya waktu yang dibutuhkan Flamingo untuk sekedar melakukan launching, hingga jumlah tim yang dianggap terlalu besar, dianggap Sumartok sebagai dasar kegagalan startup pertamanya itu. Namun ia tidak menyerah dan terus mempelajari kesalahannya bersama Flamingo, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat sebuah startup baru yang bernama Tripvisto pada bulan Agustus 2014 silam. Bisnis Flamingo dan Tripvisto sebenarnya sama persis, hanya sisi manajerialnya saja yang berubah. Namun ternyata perubahan itu telah cukup untuk merubah nasib Sumartok dari seorang founder yang gagal menjadi seorang founder yang sukses. Setahun berjalan, Sumartok telah berhasil mendapatkan pendanaan Seri A untuk Tripvisto dari Gobi Partners sebesar USD 1 Juta (sekitar Rp 13,6 Miliar).

Tidak Ada Kata Gagal Dalam Kamus Saya

Mungkin itu yang ada dalam pikiran Sumartok ketika harus menutup Flamingo pada tahun 2012. Dana yang sudah habis memaksa Sumartok untuk memberhentikan para karyawannya. Ia sendiri pun harus mencari pekerjaan lain untuk membiayai hidupnya. Namun selama periode pasca-Flamingo, impian besar Sumartok tetaplah sama, ia ingin membuat sebuah layanan travel. Karena itu, ia pun terus mengumpulkan uang, terus belajar, dan terus membangun kembali cikal bakal Tripvisto dari nol.

“… saya belajar digital marketing, SEO, WordPress, merangkap sebagai customer service, tour guide, dan melakukan sales call ke klien potensial untuk Tripvisto,” ujar Sumartok. Menurut dia, tidak ada yang salah dengan kegagalan. Lebih cepat kita gagal, maka lebih cepat pula kita bisa memperbaiki diri. “Startup bekerja dengan resource yang terbatas, jadi bergerak cepat, melakukan banyak eksperimen, gagal dan cepat bangun lagi sangatlah penting,” tambahnya.

Tripvisto

Kisah baru pun dimulai. Setelah mengumpulkan cukup dana, Sumartok membangun Tripvisto hanya dalam waktu 4 bulan, dengan jumlah tim yang hanya 3 orang. Ia membuka sebanyak mungkin sistem pembayaran, termasuk membayar secara tunai ke kantor Tripvisto. Fokus produk tidak lagi pada paket domestik, melainkan pada paket luar negeri yang ternyata lebih diminati oleh para konsumen. Dan aplikasi mobile pun tidak akan ada dalam waktu dekat karena Sumartok menganggap hal itu hanya akan membuat timnya lebih repot, tanpa memberikan dampak yang signifikan kepada penjualan produknya.

Hasilnya, ratusan paket tur ke 157 kota tujuan di 50 negara pun sudah bisa dilayani oleh Tripvisto. Dan pendapatan bulanan mereka selama setahun terakhir ini sudah mengalami kenaikan 10 kali lipat, wow! Tak heran kalau Tripvisto pun berhasil menjadi startup kedua di bidang Travel, setelah Traveloka, yang mampu meraih pendanaan Seri A. Mereka berhasil menjadi yang terdepan dibanding startup-startup lain yang juga bergerak di bisnis yang sama seperti YukTravel, Gogonesia, dan Pikavia. Sumartok mengatakan kalau ia akan menggunakan dana segar yang ia terima untuk mengembangkan produk, merekrut talenta-talenta baru, dan memperkuat pemasaran.

Pendanaan Awal yang Merubah Nasih Tripvisto

Keberhasilan Tripvisto meraih pendanaan Seri A tidak lepas dari pendanaan awal yang mereka dapatkan dari East Ventures pada awal kemunculan mereka tahun lalu. Berbekal pendanaan tersebut, mereka berhasil memperbanyak jumlah produk di dalam layanan mereka, serta membentuk tim yang solid. Hal itu pula yang kemudian menarik minat Gobi Partners untuk berinvestasi pada Tripvisto. Apalagi di negara asalnya, Gobi Partners juga telah berinvestasi pada startup dengan bisnis yang serupa dengan Tripvisto, yaitu Tuniu. Sumartok percaya kalau nantinya ia bisa mempelajari banyak hal dari pengalaman-pengalaman Gobi Partners bersama Tuniu.

Tripvisto 1

Di sisi lain, Gobi Partners sendiri jelas akan mendapat banyak keuntungan dari investasi ini, karena Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, dan memiliki pasar travel inbound dan outbound yang menjanjikan. “Dengan memanfaatkan momentum dari pertumbuhan ekonomi dan demografis Indonesia, kami percaya Tripvisto akan mampu memberikan pengalaman tur yang fantastis untuk lebih banyak turis outbond dan domestik di Indonesia,” ujar Thomas G. Tsao, Managing Partner dari Gobi Partners. Hal ini bukan tanpa alasan, karena berdasarkan data resmi pemerintah, di tahun 2014 terdapat 10 juta traveler outbond dan 120 juta traveler domestik di Indonesia. Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 dengan 70 juta penduduk kelas menengah, yang artinya pada saat itu layanan travel seperti Tripvisto akan menjadi sangat populer.

Bagaimana pendapat anda tentang masa depan startup travel seperti Tripvisto ini? Setujukah anda kalau Sumartok telah berhasil menunjukkan sebuah transformasi yang baik sejak menutup Flamingo hingga membuka Tripvisto?

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. doremi says:

    Salah satu cara pemasaran yang menyesatkan..seakan akan “sukses dan berhasiil” padahal kondisinya sebaliknya..hal seperti ini yg menggiring opini para fresh graduate untuk terjun ke model bisnis startup tanpa pengalaman kerja..sudah banyak contoh startup yg digembar gemborkan dan berkoar koar sukses ujungnya tutup dan bangkrut dalam hitungan bulan..setelah itu foundernya bingung mau kerja dimana??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>