Teknologi Baterai Baru – 70% Dalam 2 Menit

NTU

(Searah jarum jam dari atas) NTU Assoc Prof – Chen Xiaodong bersama research fellow – Tang Yuxin dan kandidat PhD – Deng Jiyang [sumber]

Masih ingat tentang survey mengenai faktor penentu dalam membeli smartphone? Dengan tidak mengejutkan, daya tahan baterai menjadi yang juara. Hal ini karena sangat relevan dengan dunia per-gadget-an sekarang dimana seringkali kita mendapati gadget kita kehabisan daya. Ini juga yang menyebabkan industri power bank jadi ngehits 3 tahun belakangan.

Masalah daya baterai gadget ini sebenarnya bisa diselesaikan melalui dua cara. Yang pertama adalah melalui optimisasi sistem operasi sehingga efisien terhadap daya yang dikonsumsi (sebagaimana yang dilakukan Android dalam proyek Volta-nya), yang kedua adalah meningkatkan performa si baterai itu sendiri.

Optimasi Performa Baterai

Solusi kedua kemudian dapat kita bagi kembali menjadi dua. Yang pertama, dan yang sederhana, adalah membesarkan kapasitas daya baterai. Hal ini sudah mulai kita temui di smartphone yang beredar sekarang. Sebut saja Thl 5000 (lanjutan dari seri Thl 4400) dengan kapasitas baterai sebesar 5.000mAh. Yang kedua adalah melakukan perubahan terhadap beterai itu sendiri. Adalah peneliti NTU (Nanyang Technological University) di Singapura yang melakukan penelitian mengenai hal ini.

Dengan mengembangkan baterai li-ion (lithium ion) dengan cara baru, para peneliti tersebut berhasil mendapatkan baterai li-ion yang dapat diisi ulang dayanya (recharge) dengan waktu yang sangat cepat dan dapat bertahan 10 kali lebih lama dari baterai yang beredar di pasaran saat ini. Kabar baiknya, penelitian ini siap menuju ke pasar gadget dua tahun ke depan.

Fast Charging?

Rerata gadget yang beredar sekarang dapat di-charge sampai penuh dalam dua jam. Waktu ini bisa menjadi sangat lama bagi yang sangat aktif dan mobile. Dengan metode baru tersebut, baterai dapat di-charge sampai dengan 70% hanya dalam dua menit! Jika sukses meluncur ke pasar, baterai ini tentunya akan mendefinisikan ulang kata-kata fast charging.

Tahan Lama?

Telah disebutkan diatas bahwa baterai baru tersebut mampu bertahan sampai 20 tahun. Hal ini spektakuler mengingat rerata baterai li-ion yang kita temui di ponsel, tablet, dan laptop umumnya memiliki siklus 500 kali pengisian ulang (recharge). Atau hanya sekitar dua tahun. Tidak hanya proses pengisian ulang daya yang begitu cepat, baterai ini 10x lebih awet dibandingkan baterai konvensional.

Bagaimana Bisa?

70% dalam 2 menit serta tahan 20 tahun, terobosan dimungkinkan dengan cara mengganti grafit yang membuat anoda (kutub negatif pada baterai) pada baterai li-ion dengan bahan berbasis gel yang dibuat dari nanotube titanium dioksida yang mereka (peneliti NTU) kembangkan sendiri.

Nanotube ini seribu kali lebih tipis dibandingkan rambut manusia dan mampu menigkatkan kecepatan perpindahan masuk dan keluarnya elektron dan ion ke dan dari baterai. Hal tersebut kemudian memungkinkan proses pengisian ulang daya yang super cepat. Selain itu, akan lebih banyak energi yang dapat disimpan di dalam baterai sehingga yang biasanya hanya memiliki 500 siklus, kini bisa mencapai 10.000 siklus pengisian ulang daya.

Harga

Setelah melihat kelebihan yang begitu wah dari baterai ini, wajar jika timbul keraguan mengenai keterjangkauan baterai dari segi harga. Ternyata, dikarenakan titanium dioksida sebagai bahan utama baterai tersebut harganya murah dan banyak tersedia di tanah, harga baterai li-ion baru ini juga akan relatif lebih murah.

Implikasi

Selain kita dapat melakukan pengisian ulang gadget kita sambil gosok gigi tanpa khawatir kehabisan baterai di tengah jalan, teknologi ini juga memiliki potensi membantu industri mobil listrik. Selain itu, karena 10 kali lebih tahan lama dibandingkan baterai konvensional, teknologi ini akan membuat baterai lebih ramah lingkungan. Karena akan ada 10 kali lebih sedikit limbah baterai bekas (baik dari baterai gadget maupun mobil listrik).

70% dalam 2 menit, tahan 20 tahun, murah, ramah lingkungan, terjadwal tersedia 2 tahun lagi, rasanya semua pengguna gadget tidak sabar menunggu hadirnya teknologi ini.

 

sumber: NTU via sciencealert

galihpermadi

Editor aitinesia. Kalo lagi ga sibuk ngurusin aitinesia, biasanya doi sibuk ngurusin badan. Gemar cabang-cabang olahraga menantang seperti Catur dan Monopoli.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>