Taksi Uber, Dari Dilarang Beroperasi Hingga Mengancam Untuk Menyadap Jurnalis

Uber Taxi

Perusahaan aplikasi penyewaan taksi terkenal, Uber, seperti tak pernah berhenti membuat sensasi. Sayangnya, kebanyakan sensasi tersebut merupakan hal-hal yang bersifat negatif, yang sebenarnya tidak baik untuk perkembangan perusahaan mereka. Sebelumnya, Uber telah dihujat dan didemo oleh para supir taksi konvensional di beberapa kota besar, termasuk dilarang untuk beroperasi di Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Belum selesai dengan masalah-masalah tersebut, kini mereka sudah dihadapkan pada permasalahan-permasalahan baru, seperti pandangan mereka tentang pengemudi perempuan, dan soal keamanan data pengguna mereka.

Uber Yang Begitu Besar

Sebagai informasi, saat ini Uber merupakan perusahaan pribadi dengan nilai jual yang paling tinggi di Amerika Serikat. Dengan modal yang berjumlah 1,5 Miliar Dollar (sekitar 18 Triliun Rupiah) yang diberikan oleh para investor, nilai jual mereka pun kini berada di kisaran 17 Miliar Dollar (204 Triliun Rupiah). Ini semua berkat perkembangan bisnis mereka yang demikian pesat. Saat ini, Uber telah hadir di 232 kota besar yang berada di 46 negara di dunia, termasuk Jakarta. Pemasukan mereka dikabarkan mencapai 1 Miliar Dollar per bulannya.

Semakin besar sebuah perusahaan, pasti akan semakin besar pula hambatan yang menghadang. Pertanyaannya adalah, apakah perusahaan tersebut mampu mengatasi hambatan tersebut dengan baik atau tidak. Hal itu juga yang saat ini layak ditanyakan kepada Uber. Di awal kemunculannya, Uber banyak mendapat pujian karena ia merubah bisnis taksi tradisional yang mahal dan tidak praktis, menjadi sebuah bisnis berbasis teknologi yang murah dan nyaman.

Namun semua pujian itu mulai luntur seiring dengan tindakan-tindakan kurang baik yang dilakukan Uber. Para supir taksi di kota-kota di mana Uber beroperasi, kompak menolak perusahaan teknologi ini karena mereka menolak untuk mengikuti aturan sebagaimana layaknya penyedia jasa transportasi umum. Hal ini juga mereka lakukan di Jakarta, sehingga Ahok dan Dinas Perhubungan harus melarang beroperasinya Uber di jalanan ibukota.

Demonstrasi Menentang Uber di Eropa

Demonstrasi Menentang Uber di Eropa

Selain itu, mereka juga sering melakukan tindakan-tindakan tak etis untuk menghancurkan lawan bisnisnya. Salah satu hal yang paling dikecam adalah tindakan para pegawai Uber yang membuat pemesanan palsu kepada Lyft, perusahaan penyewaan taksi yang juga merupakan pesaing Uber di Amerika Serikat. Akhirnya, Lyft pun sibuk menghadapi panggilan palsu tersebut, hingga mereka tak sempat memenuhi pemesanan dari konsumen asli, sehingga mereka pun mengalami kerugian. Tak cukup sampai di situ, Uber pun memanggil beberapa pengemudi Lyft secara terbuka, dan menawarkan kompensasi jika mereka mau meninggalkan Lyft dan bekerja untuk Uber.

Tindakan Promosi Uber yang Menghina Perempuan

Sebuah layanan penyewaan taksi seperti Uber, sudah seharusnya menawarkan sebuah layanan yang aman agar mendapat kepercayaan dari para konsumennya. Kita sendiri pasti memilih-milih jika ingin menggunakan taksi, dan biasanya hanya mau memberhentikan taksi-taksi tertentu yang menurut kita aman untuk digunakan.

Sayangnya, beberapa kasus telah membuktikan kalau Uber tidak memberikan layanan yang lebih aman dari layanan taksi lainnya, terutama bagi kaum perempuan. Lebih jauh lagi, Uber tampaknya tidak begitu menganggap keamanan bagi perempuan sebagai suatu hal yang penting. Salah satu buktinya adalah kasus di mana seorang supir Uber di Amerika Serikat yang ‘menculik’ seorang pelanggan perempuan yang mabuk dan membawanya untuk menginap di sebuah kamar hotel. Selain itu ada juga kasus di mana seorang pengemudi Uber yang terbukti melakukan penyerangan kepada seorang pelanggannya. Setelah diselidiki, pengemudi tersebut ternyata mempunyai catatan kriminal yang seharusnya telah diketahui oleh Uber, namun nyatanya Uber tetap menerimanya sebagai pengemudi.

Kasus-kasus tersebut pun diperparah lagi dengan Uber di Perancis yang membuat sebuah promo yang seolah-olah merendahkan martabat perempuan. Dalam promosi tersebut, Uber di kota Lyon, Perancis, mengajak para pelanggan pria untuk menyewa sebuah taksi Uber yang dikendarai oleh seorang model cantik berpakaian seksi. Menurut Sarah Lacy, seorang jurnalis dari PandoDaily, promosi itu seolah mengatakan kalau setiap perempuan yang berprofesi sebagai pengemudi, layak diasosiasikan sebagai (maaf) pelacur. Dan karena promosi tersebut, Sarah Lacy pun mengumumkan secara terbuka dalam sebuah artikel kalau ia telah menghapus aplikasi Uber dari smartphone miliknya.

Sebuah Serangan Terhadap para Jurnalis

Apakah Uber berubah setelah kejadian-kejadian tersebut? Tidak. Mereka pun tampak tidak ingin memperbaiki hal itu, dan tidak sedikit pun meminta maaf atas cara promosi yang buruk tersebut. Mereka bahkan menyerang Sarah Lacy, jurnalis yang mengkritisi promosi itu. Dalam sebuah pesta tertutup, Emil Michael, Wakil Presiden untuk Bidang Bisnis di Uber, mengatakan kalau Uber seharusnya menyisihkan dana sebesar 1 Miliar Dollar khusus untuk menyelidiki kehidupan pribadi para jurnalis yang sering mengkritik Uber, terutama Sarah Lacy.

Sarah Lacy, Perlu 1 Juta Dollar Untuk Menghentikan Kritiknya

Sarah Lacy, Perlu 1 Juta Dollar Untuk Menghentikan Kritiknya

Perkataan ini langsung mengundang perhatian dari banyak pihak, apalagi saat ini semua orang masih sangat khawatir dengan cerita Edward Snowden terkait isu penyadapan oleh pemerintah Amerika Serikat kepada seluruh penduduknya. Hal ini jelas sebuah intimidasi kepada setiap jurnalis untuk tidak menceritakan hal-hal buruk tentang Uber, karena mereka akan melakukan ‘sesuatu’. Sarah Lacy pun begitu khawatir setelah mendengar pernyataan tersebut, dan langsung meningkatkan keamanan di kediaman pribadinya.

Berbeda dengan kasus promosi Uber di Lyon, kali ini Uber meminta maaf atas pernyataan tersebut, namun tidak memberikan sanksi apapun kepada Emil Michael, yang merupakan orang kedua di Uber, setelah sang Chief Executive Officer (CEO), Travis Kalanick.

Bagaimana Keamanan Data Pengguna Uber?

Dalam permintaan maaf Uber terkait pernyataan Emil Michael tersebut, mereka pun menambahkan kalau setiap data pengguna di Uber akan selalu dijaga dan tidak digunakan untuk keperluan apapun, apalagi untuk penyelidikan pribadi terhadap para jurnalis. Sayangnya, hal tersebut juga terbantahkan karena ternyata mereka memiliki sebuah aplikasi bernama God View, yang bisa digunakan untuk melacak data setiap penggunanya. Seorang pimpinan Uber, Josh Mohrer, bahkan pernah melakukan pelacakan terhadap seorang jurnalis Buzzfeed yang menggunakan Uber, Johana Bhuiyan, dan kemudian memperlihatkannya kepada Johana.

Aplikasi God View ini, seperti sensasi-sensasi Uber sebelumnya, juga mengundang perdebatan. Seorang senator Amerika Serikat, Al Franken, bahkan sampai harus menyampaikan surat terbuka kepada CEO Uber, Travis Kalanick, dan mengharuskan Travis untuk menjawab surat tersebut sebelum tanggal 15 Desember 2014. Di antara isi surat tersebut adalah pertanyaan tentang siapa saja yang bisa mengakses aplikasi God View tersebut, termasuk tentang bagaimana pendapat Uber terkait pernyataan kontroversial Emil Michael.

Bagaimana Perjalanan Taksi Uber ke Depan?

Dengan semua berita negatif tersebut, perjalanan Taksi Uber ke depan pasti akan penuh hambatan. Apalagi Uber menjalankan sebuah bisnis yang membutuhkan kepercayaan yang besar dari para penggunanya. Apabila mereka tidak cepat-cepat mengatasi semuanya, dan mengembalikan kepercayaan para pengguna mereka, kebesaran Uber bisa tinggal cerita.

Lalu bagaimana dengan perjalanan Taksi Uber di Indonesia? Uber seharusnya cepat-cepat menyelesaikan permasalahan mereka dengan Dinas Perhubungan terkait izin beroperasi di DKI Jakarta, yang nantinya akan memutuskan apakah layanan seperti Uber ini sudah memenuhi aturan atau belum. Dengan begitu banyaknya taksi di Jakarta, apalagi beberapa di antaranya sudah mengadopsi teknologi pemesanan seperti yang digunakan oleh Uber, tampaknya tidak akan banyak yang kecewa jika Uber akhirnya tidak ada lagi di Jakarta.

Bagaimana pendapat anda tentang Taksi Uber? Sampaikan lewat kolom komentar di bawah ini.

Sumber:

  1. http://pando.com/2014/10/22/the-horrific-trickle-down-of-asshole-culture-at-a-company-like-uber/
  2. http://abc7.com/news/uber-driver-takes-drunk-woman-to-motel-arrested/91780/
  3. http://www.buzzfeed.com/bensmith/uber-executive-suggests-digging-up-dirt-on-journalists
  4. http://www.franken.senate.gov/files/letter/141119UberLetter.pdf
  5. http://www.engadget.com/2014/11/19/senator-al-franken-uber-questions/

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. mohamad sidiq says:

    saya senang sekali artikel yg anda tulis yg menyatakan fakta sebenarnya. Sy awalnya senang dan memakai baik uber maupun grabcar. Setelah saya memakai uber 5 kali muncul masalah. seperti biasa saya order dari lippo karawaci to kebon jeruk. sebelum mobil datang sy konfirm penjemputan by phone. unit datang tepat langsung berangkat. dalam perjalanan terjadi pembicaraan karena sy lihat cara nyetir ngebut. sy ingatkan jangan ngebut toh waktu sy masih banyak. dia bilang harus ngebut kalau mdak dia bisa gak target u cicilan mobil . kemudian dg kesal dia mengumpat.masalah mulai dari sini karena sy tetsinggung dg umpatannya. sy ingatkan baik baik tetap saja. selang dua hari ada sms yg isi kata kata sumpah serapah gak jelas di hp. sy baru ingat kalau no hp sy gunakan di app uber. ternyata khan ada log filenya telepon keluar masuk di hp pengemudi ubet tadi saat konfirmasi penjemputan. dg no lain yg sekali pakai buang sopir atau no hp sy di berikan ke orang lain bisa sms atau telp untuk meneror penumpang yg tidak di sukai. ini yg sy alami mudah2an jadi pelajaran yg lain lebih berhati hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>