Startup Pertanian, Jadi Juara di Amerika tapi Melempem di Indonesia

Startup Pertanian

Di Amerika Serikat, ada sebuah event startup terkenal yang diprakarsai oleh situs TechCrunch, namanya adalah TechCrunch Disrupt. Di dalamnya, ada sebuah lomba pitching yang prestisius, yang disebut Battlefield. Saking terkenalnya event ini, sebuah serial TV terkenal yang mengangkat kehidupan para founder startup, yang berjudul Silicon Valley, pun membawa event ini ke dalam cerita di beberapa episodenya. Minggu ini, sebuah event TechCrunch Disrupt yang diadakan di San Fransisco baru saja berakhir. Menariknya, pemenang Battlefield dalam TechCrunch Disrupt kali ini merupakan startup yang berasal dari sektor bisnis yang jarang dilirik, yaitu bisnis pertanian. Startup tersebut bernama Agrilyst.

Hal itu langsung mengundang perhatian, bagaimana bisa sebuah startup pertanian mengalahkan startup-startup lain dari bidang finansial, consumer, dan bidang-bidang populer lainnya yang juga sama-sama tampil hebat di event TechCrunch Disrupt? Lebih jauh lagi, mengapa sejauh ini hanya sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada, startup pertanian asal Indonesia yang muncul ke permukaan?

Agrilyst, Semua Data Pertanian Bisa Langsung Tampil di Layar Smartphone Anda

Allison Kopf, co-founder dan CEO dari Agrilyst, sebenarnya tidak pernah bermimpi sama sekali untuk membuat bisnis di bidang pertanian. Ia menyukai ilmu Fisika, dan mengambil jurusan fisika ketika kuliah. Namun semuanya berubah sejak ia bekerja untuk sebuah operator pertanian berbasis rumah kaca yang berlokasi di kota New York. Seketika ia melihat kalau bisnis ini punya potensi yang besar, dan masih banyak hal yang bisa diperbaiki dari bisnis ini, terutama soal ketersediaan data dan informasi terkait pertumbuhan tanaman. Allison jadi makin bersemangat ketika ia kemudian bertemu dengan Jason Camp, yang sekarang menjadi CTO di Agrilyst.

Agrilyst Menjadi Juara di TechCrunch Disrupt (Sumber Gambar : TechCrunch)

Agrilyst Menjadi Juara di TechCrunch Disrupt (Sumber Gambar : TechCrunch)

Saat ini, Agrilyst hanya fokus mengembangkan sistem penanaman terpadu khusus untuk rumah kaca. Menurut Allison, penanaman di rumah kaca memungkinkan mereka untuk mengontrol segala sesuatunya dengan lebih baik. Kebanyakan rumah kaca yang ada sekarang masih menggunakan sensor yang terhubung dengan kabel, tidak terkoneksi satu sama lain, dan menggunakan teknologi yang sudah sangat usang. Padahal, para petani sudah mulai sadar akan pentingnya data-data dari sensor tersebut untuk mendukung bisnis mereka. Kebanyakan dari mereka masih mencatat secara manual semua data-data tersebut, termasuk data panen mereka.

Di sinilah Agrilyst menawarkan solusi penyediaan sensor berteknologi tinggi yang saling terkoneksi. Data-data dari sensor tersebut akan dikumpulkan dan diolah untuk menghasilkan data-data yang dibutuhkan petani. Agrilyst saat ini sudah bisa mengukur kadar Karbon Dioksida (CO2) yang berfungsi mendukung fotosintesis. Karena kebanyakan pertanian rumah kaca menggunakan sistem hidroponik, di mana media tanamnya merupakan air dan bukan tanah, Agrilyst juga sudah bisa mengukur kondisi air tersebut. Selain itu, Agrilyst juga bisa mengukur intensitas cahaya, kelembaban, dan hal-hal lain yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Itulah solusi yang diberikan Agrilyst untuk masalah pertanian di Amerika Serikat, lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Minimnya Startup Indonesia yang Terkait Dengan Pertanian

Indonesia sudah sejak beberapa abad yang lalu dikenal sebagai negara agraris. Hal ini pula yang membuat Indonesia akhirnya dijajah oleh negara-negara asing sebelum meraih kemerdekaannya di tahun 1945. Tanah yang subur menjadi faktor utama yang mendukung keberhasilan bisnis pertanian di Indonesia. Dalam sebuah lagu terkenal yang dipopulerkan oleh grup musik Koes Plus bahkan dikatakan kalau di Indonesia ‘Tongkat Kayu dan Batu’ saja bisa jadi tanaman, sebagai idiom betapa suburnya tanah di Indonesia.

8Villages

Anehnya, di saat Agrilyst di Amerika Serikat sudah sangat peduli akan pentingnya menerapkan kemajuan teknologi di bisnis pertanian, Indonesia malah cenderung adem ayem saja. Hal ini tercermin dari begitu minimnya startup teknologi lokal di bidang pertanian. Padahal, sebagai negara agraris yang besar, seharusnya Indonesia-lah yang paling aktif berinovasi di sektor ini. Menurut riset kami, baru ada 2 startup yang bergerak di bidang pertanian tanah air, yaitu 8Villages, dan CI-Agriculture. 8Villages sendiri adalah jejaring sosial khusus petani yang tidak hanya menyediakan platform berbasis internet / aplikasi mobile, tapi juga platform berbasis SMS yang disebut LISA. Sedangkan CI-Agriculture adalah startup yang membantu petani membuat perencanaan dengan bantuan drone, memudahkan distribusi ke pasar, hingga membuat skema asuransi terbaik untuk sang petani. Sebenarnya, ada 1 startup lagi di bidang pertanian, yaitu iGrow. Namun iGrow tidak memfokuskan bisnisnya untuk memperbaiki kualitas tanaman, melainkan untuk memperbanyak lahan pertanian dengan metode crowdsource (kita bisa memberikan modal untuk penanaman tumbuhan, dan mengambil keuntungan ketika panen). Di bidang peternakan, yang erat hubungannya dengan bidang pertanian, malah baru ada 1 startup, yaitu eFishery. (Mohon beritahu kami kalau ada startup pertanian dan peternakan yang luput dari riset kami.)

CI-Agriculture

Menurut CEO eFishery, Gibran Huzaifah, minimnya startup pertanian di Indonesia dipengaruhi oleh minimnya para ahli di bidang teknologi hardware / digital yang juga mengetahui masalah-masalah di bisnis pertanian. Selain itu, ekosistem di sektor ini juga belum terbentuk dengan baik. “Kemenangan Agrilyst di TechCrunch Disrupt merupakan sinyal positif, karena ini membuktikan kalau startup Internet of Things (IoT), khususnya di bidang pertanian, mulai dilihat potensinya,” tambah Gibran.

Sejauh ini, perkembangan startup di Indonesia masih didominasi oleh startup dari bisnis consumer, seperti e-commerce, transportasi, pemesanan makanan, dan lain-lain. Semoga para entrepreneur tidak terlena dengan bisnis-bisnis tersebut, dan turut memikirkan tentang perkembangan pertanian di Indonesia. Sangat disayangkan apabila ‘sinyal positif’ yang disebutkan Gibran, tidak dimanfaatkan dengan baik oleh negara agraris seperti Indonesia.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

2 Responses

  1. Aji says:

    Ada 1 lagi om, aplikasi untuk peternakan ayam petelur lokal indonesia namanya layerfarm.com, just shared…

  2. Hamid says:

    Ada lagi namanya indmira, berkantor di Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>