Relevansi Big Data dan Ilmu Perpustakaan: Sebuah Pendekatan Baru

Berbagai contoh tools pengorganisasian data yang dapat diaplikasikan oleh pustakawan

Dari masa ke masa, manusia selalu menciptakan inovasi untuk setiap ilmu dan selalu berkembang sesuai dengan zamannya. Tak terkecuali ilmu perpustakaan. IImu perpustakaan di abad 21 telah mengalami banyak perubahan yang signifikan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Lalu, bagaimana ilmu perpustakaan/pustakawan memiliki hubungan dengan big data?

Apa yang ada di pikiran kita semua jika mendengar ilmu perpustakaan? Saya yakin mayoritas dari kita akan menjawab ilmu yang mempelajari pengorganisasian buku-buku, ilmu mencari referensi, hingga ada yang menjawab itu semua hal yang sangat membosankan. Lain halnya jika berbicara mengenai big data. Bagi sebagian orang, terutama yang bergelut di dunia IT, sekarang big data adalah suatu hal yang trendy, hi-tech, zetabyte, dan hal yang dapat memgoptimalkan keputusan bisnis hanya dengan bahan data mentah bervolum masif yang diolah (business intelligence). Pada kenyataannya, kedua hal ini dapat berkaitan.

Sekilas mengenai Big Data

Kita semua tahu, bahwa data adalah hasil dari proses pergerakan suatu peristiwa yang kemudian dapat dijadikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan, hingga dari informasi itu dapat dijadikan bahan pengambilan keputusan (wisdom). Big data yang diperoleh bisa bersumber dari berbagai peristiwa seperti transaksi, devices, dan website yang menghasilkan data (bukan data dalam pengertian bandwith). Seperti data cuaca, finansial, pergerakan politik, ATM, pangan, jumlah pengunjung, jenis kelamin, kesukaan, hobi, dan sebagainya. Apa yang membuat big data berbeda dengan data biasa? Data dapat dikatakan sebagai big data apabila memiliki faktor 3V (volume, velocity, variety). Besaran ukuran big data sendiri tidak dapat ditentukan, namun pengolahan big data memerlukan effort yang tinggi dari segi penganalisa (data analyst), software, dan hardware.

Permintaan Data Analyst/Scientist

Pengolahan big data tentunya memerlukan sumber daya manusia andal yang memiliki kemampuan untuk mentransformasikan data menjadi informasi/wisdom yang berguna bagi organisasi maupun perusahaan. Demand dari data analys/scientist sendiri mulai mengalami ledakan pada akhir-akhir ini. Gartner Research memperkirakan, 4,4 juta lowongan kerja di seluruh dunia akan tercipta untuk pengolahan big data. Tidak heran jika Harvard Business Review menyebut data scientist sebagai “The Sexiest Job of 21st Century”. Juga menurut McKinsey Global Institute, 140.000-190.000 orang tidak memiliki kemampuan analisa yang baik dan sebanyak 1,5 juta manajer tidak memiliki kemampuan menggunakan big data. Maka dari itu, itu adalah sebuah potensi besar bagi yang sedang memperdalam ilmu analisa dan statistik. Pertanyaannya, apakah pustakawan termasuk ke dalam kategori tersebut? Dalam kemampuan dasarnya, seorang pustakawan dapat melakukan collect, organize, store, curate, manage, analyze, report, visualize, and securing pada koleksi informasi di pusat informasi (perpustakaan, riset, dsb). Hanya beberapa skill yang perlu ditingkatkan, yaitu mendalami ilmu statistik dan beberapa sentuhan pengetahuan teknologi informasi terkini (cloud computing, smart computing, dsb), maka pustakawan bisa dikatakan termasuk kategori data analyst.

“The likely big data projects for librarians user studies, collections use analysis, and cross-disciplinary comparative studies-all lend themselves to (using big data). But at the same time, the jump into the blue should be tempting us to go where no librarian has gone before-and that is welcome indeed.” –  Terence K. Huwe, Library and Information Resources Institute, University of CaLifornia-Berkeley.

Salary dan Potensi Daya Saing

Menjadi data analyst memang tidak mudah. Namun ketika demand meninggi sementara supply terbatas, akhirnya adalah salary yang tinggi. Data yang dirilis dari KDnuggets Annual Salary Poll, rata-rata pendapatan tahunan seorang data analyst/scientist di Asia adalah sekitar US$ 59,8 ribu (sekitar Rp. 50 juta/bulan). CIO Universitas Indonesia, Riri Fitri Sari, menyebutkan “Yang sangat diperlukan data analyst adalah kemampuan logika yang dalam dan kegigihan untuk terus belajar dan menguasai bisnis proses yang ada”. Beberapa job yang ditawarkan mulai Juni 2011 yang berhubungan dengan lingkup data analyst pustakawan antara lain:

  • Data Management Consultant
  • Data Mining Consultant
  • Data Research Scientist
  • Data Services Librarian
  • Design Data Librarian
  • Digital Archivist
  • Digital Collections
  • Strategist and Architecture Librarian
  • Digital Humanities Design Consultant
  • Digital Records Archivist Manager
  • Data Management Services
  • Research Data Librarian
  • Research Data Management Coordinator
  • Scientific Data Curation
  • Specialist / Metadata Librarian
  • Scientific Data Curator
  • Social Science Data Consultant

Dalam kemampuan teknis IT fundamental, pustakawan mungkin akan kalah saing dengan mereka yang berasal dari ilmu komputer dan sejenisnya. Namun, pustakawan saat ini dapat memanfaatkan potensi big data dari segi non-teknis termasuk menggunakan tools yang sudah ada, melakukan data riset lokal, hingga menggunakan data untuk mengadvokasi diri sendiri dan komunitas sekitar. Penanganan konten atau informasi merupakan ruang lingkup ilmu perpustakaan. Beberapa contoh potensi data yang dapat diambil oleh pustakawan adalah:

  • Data transaksi
  • Keluar-masuk pintu tiket
  • Kehadiran orang dalam event
  • Website data
  • Survey data
  • Data koleksi
  • Bahasa yang digunakan (analisa lanjutan)
  • Aktivitas terbaru dari media sosial
  • Penghitungan sirkulasi
  • Pengaksesan jurnal
  • Manajemen database

Setelah data-data tersebut didapatkan oleh pustakawan, pengelolaan dan pemanfaatan data tersebut dapat diterapkan untuk perantara penuturan cerita terhadap bisnis, visualisasi menggunakan pola, determine influences, mengimprovisasi rencana layanan, drive data-based decisions, membuat konten lebih mudah diakses, assess current services, maupun discern the correct questions. Konsep ini bukan hanya dapat diterapkan dalam perpustakaan untuk meningkatkan inovasi pelayanan, namun pustakawan juga dapat menerapkannya dalam dunia bisnis. Proses tersebut dapat diawali melalui tahap perencanaan, implementasi, analisa, kemudian menggunakan hasilnya (use). Perlu diketahui, negara yang memiliki ilmu perpustakaan yang maju, kini telah menangani banyak masalah penataan konten untuk bagian metadata (RDA/Dublin Core), teknologi penemuan koleksi/informasi dengan cepat (search engine), database programming, semantic web, information architecture, infografis, dan responsive digital content.

Alat dan Penerapan

Alat apa yang dapat digunakan saat ini untuk mengorganisasi dan merapihkan sekian banyak set-data? Salah satunya adalah Open Refine Projects. Open Refine (dahulu proyek Google Refine) mampu membersihkan, memilah dan memilih data yang diinginkan dari kumpulan set-data/table. Kemudian contoh lainnya adalah Data Management Plan (DMP) (https://dmp.cdlib.org) dari California Digital Library, Gephi untuk visualisasi data, dan  Gapminder sebagai kumpulan visualisasi data sosial-ekonomi. Penulis rasa contoh tools-tools tersebut sudah familiar penggunaannya apabila digunakan oleh pustakawan untuk riset data yang akan dilakukannya. Dengan memiliki kemampuan dasar yang telah disebutkan sebelumnya, pustakawan juga bisa berkontribusi dalam Open Government Indonesia (OGI) dari UKP4 dalam membantu proses transparansi informasi layanan publik, hukum, dan pemerintahan di Indonesia dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk kemudian disajikan untuk berbagai kebutuhan. Bergabung proyek Open Knowledge Foundation Network (OKFN) atau bisa juga membuat portal data mandiri menggunakan CKAN sebagai platform data research portal.

Pendekatan big data oleh pustakawan merupakan sebuah hal yang baru berkembang di dunia. Potensi ini masih perlu diperhatikan lebih lanjut oleh semua kalangan, terutama di Indonesia. Termasuk akademisi sebagai pihak pengembang ilmu/teorinya dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan kesejahteraan profesi, mengingat manfaat yang besar jika dapat mengelolanya. Pustakawan, yang telah mempelajari ilmu perpustakaan, dapat mempertimbangkan pendekatan ini agar ilmu yang dipelajari dapat selaras dengan kebutuhan permintaan industri dan inovasi. Bagi yang ingin lebih lanjut mengenal big data, dapat mengakses portal materi big data yang disediakan oleh Institut Teknologi Bandung di http://bigdata.itb.ac.id.

 

Sumber:

  • Erin Bartolo  and Jill Hurst-Wahl, 2013, Curating Library Data,  Big Data, Data Sets(Using Big Data for Library Advocacy), USA, School of Information Studies Syracuse University
  • Terence K. Huwe, 2014, Big Data and the Library: A Natural Fit, California, Library and Information Resources Institute for Research on Labor and Employment University of CaLifornia-Berkeley
  • Mike Furlough, 2012, Research Libraries and “Big Data”, Washington, DC, Penn State University Libraries CENDI/NFAIS Workshop
  • Infokomputer, September 2013, Wanted: Data Scientist, Jakarta, Gramedia

Nafi Putrawan

Has great passion in the graphic design field and loves to share anything about technopreneur, data literacy, digital record (archiving), or things referring to libraries. Currently innovating and developing HXC+ with my small team. A student of Management of Information Document, UI. Enjoys freshly juiced fruits.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

1 Response

  1. ndinii says:

    Saya tertarik dengan tulisan diatas, sangat bermanfaat dalam pengerjaan tugas yang saya dapat. Saya juga memiliki tulisan serupa mengenai data mining , kunjungi balik ya disini Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>