Demi Membantu Pengrajin Indonesia, Engineer ini Rela Meninggalkan Silicon Valley

Qlapa Homepage Screenshot (Full)

“Tinggal dan bekerja di sana memang jauh lebih baik. Sebagai engineer, kompensasi dan peluang karir memang sangat besar di Amerika Serikat,” begitu ujar Fransiskus Xaverius, mantan engineer di Google, BlackBerry, Zynga, Castlight, dan Homejoy, ketika ditanya tentang pengalaman hidupnya bekerja di pusat industri teknologi dunia bernama Silicon Valley. Namun sejak bertemu dengan Benny Fajarai di tahun 2014, mereka pun mulai berdiskusi tentang bermacam hal, termasuk ide untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di tanah air.

Benny Fajarai sendiri merupakan pendiri dari platform jejaring sosial khusus untuk para desainer grafis, Kreavi. Sejak membangun Kreavi pada tahun 2012, Benny sering mendengar kisah-kisah inspiratif dari para pembuat produk kerajinan tanah air, serta masalah-masalah yang kerap mereka hadapi. Di antara masalah-masalah tersebut adalah besarnya biaya yang diperlukan untuk membuat bazaar dan pameran.

Beberapa dari pengrajin mencoba mengatasi hal tersebut dengan cara menjual hasil karya mereka lewat e-commerce. Namun hal itu terbukti tidak efektif, karena mereka kalah bersaing dengan industri yang membuat produk serupa secara massal. Produk industri massal jelas akan jauh lebih murah meskipun kualitasnya tidak sebaik hasil karya para pengrajin tersebut. Hal ini pun merupakan salah satu topik diskusi antara Frans dan Benny, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersama-sama membuat sebuah startup bernama Qlapa.

“Saya sendiri selalu ingin kembali dan berkontribusi untuk Indonesia. Yang membuat saya tertarik untuk membangun Qlapa adalah misi kami untuk memberdayakan kreativitas lokal dengan teknologi,” ujar Frans mengenai keputusannya meninggalkan Silicon Valley.

Qlapa Incar Pasar Kerajinan Tangan yang Bernilai Triliunan Rupiah

Qlapa sendiri merupakan situs marketplace online khusus untuk produk handmade dan kerajinan tangan buatan Indonesia yang baru diluncurkan pada tanggal 1 November 2015 yang lalu. Di dalamnya, pengguna bisa membeli produk handmade yang unik langsung dari pembuatnya yang berasal dari seluruh Indonesia. Saat ini, sudah ada ribuan produk kerajinan tangan yang dijual di Qlapa, yang berasal dari ratusan pengrajin lokal.

Qlapa Team Photo

Kerajinan tangan sendiri merupakan salah satu industri yang cukup potensial di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, nilai ekspor dari kerajinan tangan di Indonesia bisa mencapai angka Rp 21 Triliun. Salah satu pameran produk kerajinan tangan yang terbesar di Indonesia, INACRAFT, bahkan bisa menghasilkan total penjualan Rp 115,7 Miliar hanya dalam 4 hari pamerannya.

Selain menjadi tempat khusus untuk jual beli produk kerajinan tangan karya pengrajin lokal, Qlapa juga berniat untuk menjadi sebuah marketplace yang nyaman bagi semua penggunanya. Karena itulah mereka melengkapi fitur penjualan dengan perhitungan ongkos kirim dan manajemen pemesanan yang rapi, agar penjual bisa lebih fokus untuk membuat produk yang berkualitas. Proses pembayaran juga menggunakan skema rekening bersama seperti yang dilakukan Tokopedia, demi menjamin keamanan transaksi.

Qlapa juga menyajikan fitur-fitur yang khas dalam proses jual beli produk kerajinan tangan, seperti variasi warna dari suatu produk yang bisa dipilih, hingga kemungkinan penjual menerima pesanan custom dari pembeli. Bahkan penjual juga bisa menerima pesanan dalam bentuk pre-order, apabila mereka hanya membuat produk berdasarkan pesanan yang masuk.

Bagaimana menurut anda akan kiprah Qlapa ke depan, akankah ada masa depan yang cerah? Akankah Qlapa memperbesar penghasilan para pengrajin lokal secara signifikan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>