Pembuat Google Glass ‘Kabur’ ke Amazon, Produksi Kacamata Pintar Kian Sekarat

Babak Parviz

Babak Parviz, Founder Google Glass

Sejak diperkenalkan sekitar 2 tahun yang lalu, perkembangan Google Glass benar-benar mengalami pasang surut. Sempat dikabarkan akan siap dipasarkan dalam waktu singkat, namun hal tersebut tidak kunjung menjadi kenyataan. Puncaknya, Google sama sekali tidak membicarakan tentang Google Glass dalam gelaran Google I/O di akhir bulan Juni yang lalu. Malah si anak bawang, Android Wear, yang menyita perhatian dengan peluncuran berbagai macam produk smartwatch-nya (jam pintar).

Performa Google Glass pun semakin menjadi pertanyaan, karena beberapa masalah yang mereka hadapi setelah mendapat upgrade sistem operasi Android terbaru, Android KitKat. Proses data menjadi lebih lambat, hingga akhirnya Google memutuskan untuk menghapus fitur video chat.

Pembuat Google Glass Hijrah ke Amazon

Kini, Google Glass kembali mendapat kabar buruk. Penemu dan mantan Pimpinan Pengembangan Google Glass, Babak Parviz, mengumumkan kalau ia akan keluar dari Google untuk bergabung dengan sebuah perusahaan E-Commerce, Amazon. Ia bahkan mengatakan kalau ia ‘sangat bersemangat’ dengan kepindahan tersebut. Selain Google Glass, Parviz juga terlibat dalam pengembangan Google Contact Lens di Google.

Babak Parviz 'sangat bersemangat' pindah dari Google ke Amazon

Babak Parviz ‘sangat bersemangat’ pindah dari Google ke Amazon

Google Glass Kehilangan Momentum

Apa yang terjadi dengan Google Glass, tampak serupa dengan apa yang terjadi dengan Google+. Masa depan produk dipertanyakan, sedangkan kompetitor terus bermunculan dengan produk yang lebih menarik. Harus kita akui kalau Google+ sangat kurang menarik, apalagi bila kita membandingkannya dengan jejaring sosial lain seperti Facebook, Twitter, dan Path. Adapun Google Glass, walaupun sempat membangkitkan minat kita di awal kemunculannya, kini telah mendapat persaingan yang ketat dari smartwatch yang sudah mulai diminati oleh konsumen. Bahkan, berbeda dengan Google Glass yang belum mempunyai software yang jelas, Google telah mempunyai Android Wear sebagai software utama untuk smartwatch.

“Bukankah lebih baik menjual barang yang sudah pasti disukai konsumen, daripada mengembangkan sebuah produk yang masih diragukan untuk bisa laku terjual? Apalagi bila biaya pengembangan produk baru tersebut amat sangat mahal.”

Hal ini menjadi semakin parah, ketika Google Glass dan Google+ pun sama-sama ditinggalkan oleh penemu dan pimpinan mereka. Sebelumnya Google+ telah ditinggalkan oleh Vic Gundotra, dan kini Google Glass pun ditinggalkan oleh Babak Parviz. Apakah ini merupakan tanda-tanda akan matinya kedua produk ini dalam waktu dekat? Kita tunggu saja.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>