Natural Experience: Tantangan serta Peluang Baru Industri E-Commerce

Di dunia, maupun di Indonesia, e-commerce tidak bisa dibilang sebagai industri baru. Dalam perjalanannya, banyak tantangan-tantangan yang dihadapi dan mulai diselesaikan oleh para pemain industri ini. Misalnya perihal sosialisasi, logistik, sampai dengan jalur pembayaran. Namun sebagai industri yang juga sulit untuk disebut mature, e-commerce masih memiliki beberapa pe-er yang perlu untuk mulai diselesaikan. Segera.

ecommerce

E-Commerce di Indonesia

Meskipun sudah banyak pemain berseliweran, Indonesia bisa dibilang agak telat untuk urusan e-commerce. 2015 mungkin bisa dinilai sebagai milestone e-commerce Indonesia dimana pada tahun ini adopsi e-commerce mulai meningkat serta pengalaman berbelanja juga semakin nyaman dengan urusan logistik serta pembayaran yang mulai terintegrasi (masih ingat beberapa tahun ke belakang: ribetnya konfirmasi pembayaran via transfer ATM, serta pengiriman yang memakan waktu lebih dari yang kita inginkan?). Banyak sudah raksasa-raksasa baru seperti MatahariMall, Lazada, BliBli, dan lainnya, namun tantangan atau peluang seperti apa yang saat ini mereka semua hadapi?

mataharimall

Tampilan Muka MatahariMall.com

Banyaknya barang yang dijual pada situs e-commerce kemudian menjadi berkah dan musibah. Hal ini selain berarti semakin banyaknya pilihan dan kemungkinan penjualan yang terjadi, juga menimbulkan tantangan tersendiri dalam mengelola inventori yang kian banyak tersebut dan menyajikannya dalam pengalaman pengguna yang menyenangkan. Bukan hal yang mudah. Kemudian:

Natural Experience

Jika kita bandingkan pengalaman berbelanja online di e-commerce dan yang offline. tentu akan banyak perbedaan. Di satu sisi e-commerce menawarkan beragam kemudahan dalam proses berbelanja dari mulai memilih, bertransaksi, sampai mendapatkan barang. di sisi yang lain interaksi kegiatan berbelanja dengan e-commerce merupakan interaksi yang tidak humanis (baca: manusia dengan komputer).

Rupanya terdapat kemudahan yang tidak sadar kita rasakan dalam berbelanja offline. Salah satunya adalah melakukan pencarian, pilihan, serta pembandingan. Misalnya kita ingin membeli sebuah smartphone baru namun kita belum memiliki pilihan yang pasti. Kita datang ke counter-counter smartphone di daerah Roxy misalnya… “Silahkan Kakak, dipilih dulu..”, “Mau cari apa Kakak, sebut aja dulu” adalah kalimat-kalimat yang familiar memanggil kita untuk mengunjungi counter mereka dan berinteraksi. Seperti versi offline pop-up banner.

Kita cari satu counter yang menarik dan mulai bertanya. Kadang pertanyaan kita masih sangat general seperti “yang bagus apa nih sekarang?”. Penjual yang berpengalaman akan mencoba menuntun kita untuk memilih kepada smartphone dengan fitur dan fungsi yang spesifik. “Butuh yang dual sim?”, “Kalo Xiaomi mau?”, “yang ini RAMnya sudah 3 giga”, dan lain sebagainya. Pada proses ini kita mendapatkan informasi yang cukup dinamis mengenai produk yang akan kita pilih sehingga sampai kita ke produk yang sesuai dengan apa yang kita inginkan – meskipun di awal kita belum mengetahuinya. Inilah yang saya coba namakan Natural Experience.

Sayangnya Natural Experience ini sulit untuk ditemukan dalam e-commerce yang ada saat ini di Indonesia. Interaksi dengan layar komputer atau smartphone menjadi satu-satunya cara kita untuk berkomunikasi dan bertransaksi- rasanya ini tidak akan berubah dalam jangka waktu yang lama, namun tidak juga harus menjadi hal buruk. Kita perlu untuk mengetahui apa yang kita cari, atau kita harus sabar untuk menelusuri lautan pilihan produk yang sebagian besar di antaranya tidak relevan dengan yang kita inginkan.

Kondisi inventori yang kurang sempurna juga menjadi hambatan tambahan dalam berbelanja online.

Embracing New Technology

Tony

Cuplikan Gambar Tony Stark dalam Film Iron Man

Tidak, tidak berarti diperlukan teknologi secanggih yang sering ditampilkan pada film fiksi ilmiah. Teknologi-teknologi baru seputar interaksi antara manusia dan mesin yang lebih natural sudah banyak dikembangkan. Bahkan belum lama Google merilis Parsey McParseface, parser paling akurat dan saat ini telah resmi menjadi open source. Parser ini dapat membantu membuat mesin lebih memahami bahasa manusia secara natural, bukan hanya menyocokkan kata-kata yang diketikkan dengan apa yang tersedia di database. Meskipun saat ini masih untuk penggunaan bahasa inggris, adaptasi bahasa indonesia tinggal selangkah lagi.

Lalu apa manfaatnya bagi e-commerce?

“Smartphone yang RAMnya minimal 2GB dan harganya kurang dari 3 juta”. Query tersebut saya yakin akan menampilkan hasil pencarian yang gagal (atau setidaknya tidak akurat) pada saat mencari di kolom search pada situs e-commerce manapun saat ini. Dengan memanfaatkan teknologi yang biasa dikenal dengan nama Natural Language Programming (NLP – jangan ketuker sama neuro linguistic programming ya), mesin atau situs e-commerce dapat memahami maksud dibalik pencarian yang ‘humanis’ tersebut dan menampilkan hasil inventori smartphone dalam situsnya yang memiliki RAM lebih besar dari atau sama dengan 2GB dan harga kurang dari Rp.3.000.000. Penerapan teknologi ini akan membantu pengalaman berbelanja menjadi lebih natural.

Apa lagi?

Sebenarnya masih cukup banyak teknologi baru yang agak asing untuk diterapkan di e-commerce namun dapat membantu meningkatkan pengalaman berbelanja yang lebih natural. Salah satu contohnya adalah penerapan kamera 3D yang dapat mengukur dan melakukan manipulasi gambar secara langsung seperti buatan intel. Contoh aplikasinya untuk kategori fashion. Bayangkan ketika kita bisa melihat gambar real pakaian yang akan kita beli ketika nantinya akan kita kenakan. Tentunya kekecewaan yang timbul ketika produk yang diterima tidak sesuai dengan yang dilihat dilayar sebelumnya dapat diminimalisir. Namun rasanya aplikasi ini masih cukup jauh untuk penerapan.

Salah satu teknologi yang sebenarnya sudah bisa dieksplor dan mulai diterapkan pada e-commerce adalah intelligent recommendation engine. Dengan melakukan analisis prilaku belanja para user (baik dari transaksi maupun item yang dilihat/dikunjungi), e-commerce dapat melakukan profiling yang lebih akurat terhadap para usernya. Contoh sederhana, saya membeli TV 32 inci di salah satu e-commerce. Dalam beberapa bulan ke depan setiap saya login, saya akan selalu direkomendasikan item yang sejenis, yaitu TV juga. Padahal saya hanya butuh 1 TV. Rekomendasi sederhana ini bisa menjadi sia-sia sampai menyebalkan. Alangkah kerennya jika yang ditawarkan setelah membeli TV adalah home theater, meja TV, dan lainnya yang lebih relevan. Atau ketika datang tahun berikutnya si e-commmerce sudah cukup pintar dengan menawarkan saya TV 42 inci sebagai upgrade dari pembelian saya tahun lalu. Bravo!

Kesimpulan

E-commerce tanpa debat menawarkan beragam kemudahan yang tidak bisa ditawarkan belanja offline. Beli barang sambil setoran tunai di toilet dan esoknya sudah sampai di rumah tidak pernah semudah ini. Namun pengalaman berbelanja yang terjadi masih belum natural dan mengandalkan pengguna yang mengerti akan apa yang dicari. Penerapan teknologi-teknologi baru dapat membantu e-commerce untuk menghadapi tantangan ini. Bahkan ini bisa dilihat sebagai peluang. Karena siapa yang pertama menerapkan ini akan menjadi game changer.

 

 

galihpermadi

Editor aitinesia. Kalo lagi ga sibuk ngurusin aitinesia, biasanya doi sibuk ngurusin badan. Gemar cabang-cabang olahraga menantang seperti Catur dan Monopoli.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>