Kemeriahan di Hari Kedua Startup Asia Jakarta 2014

Di hari kedua Startup Asia Jakarta 2014, yang berlangsung pada tanggal 27 November 2014 yang lalu, acara kian bertambah meriah. Berbeda dengan hari pertama yang telah berlangsung sehari sebelumnya, pada hari kedua ini Startup Asia Jakarta 2014 akan dimeriahkan dengan pengumuman juara dari kejuaraan Startup Arena, dan lomba Hackathon. Tak hanya itu, di hari kedua tersebut juga akan hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang baru, Bapak Rudiantara, serta Wakil Presiden dari Xiaomi, Hugo Barra.

E-Commerce di Indonesia, Sebuah Mutiara Yang Masih Tersimpan di Dasar Lautan

Dengan jumlah pembicara yang relatif sama dengan hari pertama, Keynote Speech di hari kedua ini sedikit lebih diminati karena kehadiran 2 orang penting yang telah saya sebutkan di atas. Untuk mengawali hari, Daniel Tumiwa, Ketua dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), langsung membicarakan tema E-Commerce di atas panggung World Domination Room. Menurutnya, pasar E-Commerce di Indonesia merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Ada begitu banyak kaum muda kelas menengah yang begitu sering menggunakan internet, dan mereka punya banyak uang untuk dibelanjakan. Tak hanya di Ibukota Jakarta, E-Commerce juga akan berkembang ke luar Pulau Jawa, seperti Sumatra dan Sulawesi.

Nabilah Alsagoff Startup Asia Jakarta 2014

Hal ini juga diamini oleh pembicara selanjutnya, Nabilah Alsagoff, COO dari Doku. Saat ini penjualan secara online mungkin dianggap sudah begitu ‘booming’. Padahal menurut Nabilah, seluruh penjualan online di Indonesia  baru mencapai angka 0,7% – 1,2% dari keseluruhan transaksi jual beli di Indonesia. Ini artinya, masih ada peluang yang begitu besar jika ingin menjadi penjual online di Indonesia.

Namun, tambah Nabilah, penjualan online di Indonesia masih belum sempurna karena kebanyakan di antaranya masih membutuhkan pembayaran secara offline, seperti transfer lewat ATM, dan Cash-on-Delivery (COD) di mana pembayaran dilakukan ketika barang telah dikirim. Masih belum banyak yang menggunakan sistem pembayaran online di Indonesia. Hal ini terjadi karena masih sedikit sekali konsumen Indonesia yang mempunyai kartu kredit. Hal ini diharapkan bisa berubah, demi mengembangkan potensi E-Commerce di Indonesia.

Setelah itu, ada Mahendra Siregar (Mantan Ketua BKPM / Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia), Daniel Tumiwa (Ketua idEA) yang kembali naik ke atas penggung, serta Kuo Yi Lim (Pendiri dari Monk’s Hill Ventures) yang berdiskusi tentang aturan di Indonesia yang membatasi investasi asing di beberapa sektor, seperti energi, penjualan retail, dan lain-lain. Hal ini pun berdampak terhadap iklim E-Commerce di Indonesia. Aturan ini pernah dipakai di China, dan hasilnya kini muncul raksasa-raksasa E-Commerce dunia seperti Alibaba dan Baidu. Namun menurut para pembicara, aturan ini perlu dikaji ulang karena bisa mengurangi minat investor untuk memberikan modal bagi pengusaha Indonesia, serta membuat para entrepreneur di Indonesia menjadi ‘manja’ dan tidak berkembang.

Bagaimana Menjual Untuk Perempuan dan Kaum Muslim?

Kaum Muslim dan perempuan merupakan golongan yang dominan di Indonesia, dan karena itulah mereka merupakan pasar E-Commerce yang sangat menjanjikan. Menurut Fazal Bahardeen, Chief Executive Officer (CEO) dari CrescentRating, peluang bisnis bagi kaum muslim bisa berupa penjualan makanan halal, serta paket perjalanan ibadah ke tempat-tempat suci umat Islam. Sedangkan menurut Hanifa Ambadar, CEO dari Female Daily Network, kaum perempuan di Indonesia sangat menyukai berbelanja online untuk produk-produk kecantikan, fashion, dan aksesoris.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara 3 startup yang telah lulus dari sebuah inkubator terkenal, Rocket Internet, yaitu Bobobobo (diwakili oleh Juan Chen, Wakil Presiden bidang Bisnis), Qraved (diwakili oleh Steven Kim, CEO), dan Rupawa (diwakili oleh Fung Fuk Lestario, CEO).

Rudiantara, Fokus Pada Pembangunan Infrastruktur Telekomunikasi

Ada sedikit perubahan jadwal pada hari kedua ini, di mana Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia yang baru, Bapak Rudiantara, yang tadinya dijadwalkan untuk hadir pada pukul 7 malam, dimajukan menjadi pukul 12 siang. Walau sedikit mendadak, hal ini tidak mengurangi minat peserta Startup Asia Jakarta 2014 untuk mendengarkan diskusi Pak Rudiantara dengan Enricko Lukman dari Tech in Asia.

Rudiantara Startup Asia Jakarta 2014

Mengawali pembicaraan, Pak Rudiantara menjelaskan kalau fokus kepemimpinan beliau hingga 5 tahun ke depan adalah soal pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Hal itu diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan budaya startup di Indonesia. Ia mengakui, kalau sampai saat ini ia belum mempunyai Master Plan (rencana besar) dalam pembangunan budaya startup, karena ia belum pernah mendalami bidang tersebut sebelumnya. Namun ia berjanji untuk berbincang banyak dengan para praktisi, untuk kemudian membuat Master Plan yang dibutuhkan.

Setelah itu Pak Rudiantara menjelaskan soal sensor yang dilakukan terhadap beberapa website, terutama Vimeo. Menurutnya, ia telah berbicara dengan CEO dari Vimeo terkait hal tersebut, dan meminta beberapa syarat agar sensor tersebut bisa dicabut. Dan CEO Vimeo pun telah menyanggupi hal tersebut.

Selanjutnya menyangkut soal kebebasan berekspresi di dunia maya yang seperti dibatasi dengan adanya UU ITE, Pak Rudiantara menyebutkan kalau pendapat seperti itu merupakan pendapat yang kurang tepat. Kita sangat butuh terhadap UU ITE, demi menjamin keamanan seluruh transaksi elektronik di dunia maya. Adapun terkait dengan kasus-kasus yang menyeruak terkait UU ITE tersebut, seperti kasus Florence di Jogja, Pak Rudiantara mengatakan kalau kasus-kasus itu bisa terjadi karena perbedaan cara pandang para penegak hukum dalam memahami UU ITE tersebut. Oleh karena itu, perlu ada pendidikan yang mendalam untuk para penegak hukum di Indonesia, agar UU ITE ini tidak terus menerus menjadi kontroversi.

Setelah Pak Rudiantara turun dari panggung, acara dilanjutkan dengan Paul Srivorakul, CEO dari aCommerce, yang bercerita tentang caranya membangun sebuah startup besar. Selain itu, ia juga menjelaskan bagaimana proses pengiriman dan penyimpanan barang merupakan hal yang cukup berpengaruh dalam perkembangan E-Commerce di suatu negara.

Rovio, Dari Ibu-Ibu Para Karyawan Ke Seluruh Penggemar Game di Dunia

Bos Rovio Bertemu Dengan Menkominfo, Rudiantara

Bos Rovio Bertemu Dengan Menkominfo, Rudiantara

Kemudian, acara dilanjutkan dengan cerita Peter Vesterbacka, CEO dari Rovio (perusahaan game pembuat game terkenal, Angry Bird), tentang perjalanan Rovio hingga menjadi sebesar sekarang. Mereka memulai perjalanan mereka dengan membuatkan game untuk perusahaan lain, hingga akhirnya mereka membuat Angry Bird, yang begitu sukses di seluruh dunia. Saat ini, Angry Bird telah didownload lebih dari 2,5 Miliar kali di seluruh dunia.

Menurut Vesterbacka, orang yang paling cocok untuk menguji coba sebuah game adalah orang yang tidak pernah bermain game. Karena itu, yang pertama kali mencoba Angry Bird adalah ibu-ibu dari seluruh karyawan Rovio, dan mereka terbukti menyukai game tersebut. Itulah saat di mana Rovio yakin kalau game tersebut akan menjadi sebuah berkah bagi perusahaan game asal Finlandia tersebut.

Selanjutnya, hadir William Tanuwijaya, CEO dari Tokopedia, yang mengungkapkan perasaannya setelah mendapat tambahan modal sebesar 100 Juta Dollar, jumlah pendanaan tertinggi yang diberikan sepanjang sejarah startup di Indonesia. Salah satu sebab mengapa Tokopedia berhasil meraih pendanaan seperti itu adalah konsep Rekening Bersama (RekBer) yang mereka terapkan. RekBer juga merupakan konsep yang diterapkan oleh Alibaba, hingga mereka bisa menjadi begitu besar seperti sekarang. Konsep ini masuk ke Indonesia lewat Forum Jual Beli di Kaskus, yang sayangnya sampai sekarang belum memanfaatkan konsep tersebut untuk diterapkan secara resmi di forum jual beli mereka.

Hugo Barra : Xiaomi Ingin Menjadi Penggerak E-Commerce di Indonesia

Hugo Barra Startup Asia Jakarta 2014

Bicara tentang Xiaomi, berarti berbicara tentang Flash Online Sale, atau penjualan secara online yang berlangsung dalam waktu singkat. Namun di atas panggung Startup Asia Jakarta 2014, Hugo Barra selaku Wakil Presiden Xiaomi mengatakan kalau Xiaomi akan juga merambah penjualan offline. Dan khusus untuk Indonesia, Xiaomi telah bekerja sama dengan Erafone. Namun, Hugo Barra tetap menyatakan kalau penjualan online tetap merupakan fokus utama dari Xiaomi, dan ia juga mengharapkan penjualan Xiaomi bisa mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih memilih proses pembelian barang secara online.

7 Langkah Membangun Startup yang Baik

Mengakhiri hari kedua Startup Asia Jakarta 2014, ada Peng T. Ong, Direktur dari Monk’s Hill Ventures, yang berbagi tips tentang cara membuat startup yang baik. Menurut Peng, ada 7 hal yang dibutuhkan untuk membangun startup, yaitu:

  1. BHAG (Big Hairy Ass Goal) – Tentukan tujuanmu dalam membuat startup, cari sesuatu yang berbeda.
  2. People – Cari sumber daya manusia yang terbaik.
  3. Culture – Buat iklim bekerja yang baik.
  4. Advisors – Cari ahli untuk memberikan saran kepadamu.
  5. Phasing – Lakukan segalanya dengan bertahap.
  6. Ramp – Terus kembangkan startup milikmu sesuai dengan tujuan dan arahan dari Advisor.
  7. Clarity – Pastikan semua langkah-langkah di atas berjalan baik.

Demikianlah kemeriahan di hari kedua Startup Asia Jakarta 2014. Semoga tahun depan acara ini bisa semakin meriah dan semakin ramai dengan acara dan pembicara yang terbaik.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. Bisakah saya dibantu dalam membuat website yag tidak berbayar ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>