Kekalahan Authors Guild Terhadap Google Books dalam Gugatan Terkait Hak Cipta

Google, raksasa di dunia industri teknologi baru-baru ini memenangkan gugatan yang diajukan terhadap mereka. Authors Guild, lembaga non-profit yang menaungi para penulis, mengajukan gugatan kepada Google pada September 2005 atau setahun setelah Google mengeluarkan terobosan terbaru mereka bernama Google Books.
 google-books-logo-neu

Google Books merupakan layanan yang memungkinkan orang-orang untuk membaca sebagian atau seluruh isi dari sebuah naskah yang telah dipindai oleh Google. Google mendapatkan material untuk mereka pindai dengan beberapa cara. Salah satunya dengan program Google Books Partner Program di mana para penulis maupun penerbit dapat mempromosikan dan memasarkan buku mereka melalui Google Books. Jalur lainnya adalah bekerja sama dengan perpustakaan-perpustakaan ternama sebagai penyedia buku. Beberapa nama besar yang menjadi mitra Google antara lain Perpustakaan Universitas Harvard, Perpustakaan Negeri Bavaria, Perpustakaan Universitas Columbia, Perpustakaan Universitas Cornell, dan masih banyak lagi yang lainnya. Selain itu, Google juga mengajak majalah-majalah untuk membuat arsip digital mereka melalui Google Books.

Google Books bekerja dengan cara menyorot semua kata kunci pada setiap buku yang kita buka cuplikannya. Buku-buku yang masih dilindungi hak ciptanya, tidak akan ditampilkan seluruh isi bukunya demi tetap mendorong para pembaca untuk membeli buku tersebut baik buku fisik atau pun ebook. Jika buku yang ingin kita baca sudah berada dalam ranah publik dan habis masa berlaku hak ciptanya, maka kita dapat mengunduh buku tersebut.

Pada Oktober 2015, diperkirakan terdapat sekitar 25 juta judul buku yang telah dipindai dan dimasukkan ke dalam database Google Books.

 

Proyek yang dilancarkan oleh Google ini bukannya tanpa kritikan. Kritikan yang paling keras datang dari sebuah lembaga bernama Authors Guild. Lembaga ini merupakan organisasi tertua dan terbesar yang menaungi penulis dan memberikan bantuan advokasi dalam hal kebebasan berekspresi dan perlindungan hak cipta. Authors Guild didirikan pada tahun 1912 di New York. Saat ini terdapat 9000 orang yang menjadi anggota Authors Guild dan menerima bantuan hukum seperti panduan pembuatan kontrak dengan penerbit dan lisensi serta royalti.

 

Bulan September 2005, Authors Guild bersama beberapa individu melayangkan gugatan terhadap Google untuk proyek yang kelak dinamai Google Books. Saat itu proyek tersebut masih bernama Google Book Search.

Penggugat mempermasalahkan 4 juta buku yang masih dalam perlindungan hak cipta namun telah dipindai oleh Google Books dan masuk dalam database mereka. Sebagai timbal balik kepada mitra mereka dalam hal ini perpustakaan yang telah memberikan akses untuk memindai buku yang masih dilindungi hak ciptanya, Google memberikan berkas digital buku tersebut kepada pihak perpustakaan.

Google, mempunyai beberapa cara dalam hal mendapatkan keuntungan melalui layanan Google Books mereka. Yang pertama adalah dengan menempatkan sejumlah material baru ke dalam database mereka yang meningkatkan kinerja mesin pencari mereka, yang selanjutnya akan memberikan mereka pendapatan melalui iklan. Kedua, Google Books memungkinkan Google untuk mengumpulkan data tentang aktivitas setiap individu untuk digunakan dalam iklan yang menarget secara spesifik. Ketiga, Google dapat menggunakan data yang ada untuk semakin mempertajam algoritma mesin pencarian mereka, mendapatkan keunggulan dibanding mesin pencari lainnya.

Pada 28 Oktober 2008, pihak-pihak yang terlibat hampir menyetujui sebuah kesepakatan ganti rugi senilai 125 juta USD yang dibayarkan kepada para pemegang hak cipta buku-buku yang telah dipindai oleh Google.

Beragam reaksi bermunculan.

Perpustakaan Harvard, berniat menarik mundur diri mereka dari proyek Google Library jika ganti rugi yang dibayarkan tidak disepakati pada angka yang lebih masuk akal. Salah satu dampak dari kesepakatan ini selain pembayaran ganti rugi adalah pembuatan sebuah situs bernama Google Book Settlement yang mulai hidup pada 11 Februari 2009. Pada situs tersebut, para penulis dan pemegang hak cipta lainnya dapat mendaftarkan klaim hingga selambat-lambatnya 5 Januari 2010.

Kesepakatan ini tidak pernah terwujud karena pengadilan negeri setempat memutuskan bahwa ganti rugi tersebut terlalu ringan bagi Google.

district court

Google, melalui Sergey Brin sempat mengeluarkan pembelaan terkait kritik yang ditujukan kepada mereka dalam hal pemindaian buku dan penyimpanan di dunia maya dengan mengatakan bahwa mereka sedang melindungi warisan budaya dunia.Sergey Brin menyebutkan beberapa kejadian di mana perpustakaan masyhur di dunia seperti Alexandria dan Perpustakaan Kongres Amerika Serikat yang pernah terbakar dan kehilangan banyak koleksinya.

 

Pada 14 November 2013, pengadilan negeri memutuskan untuk menolak gugatan yang diajukan terhadap Google dengan memberikan alasan bahwa Google telah mengikuti prinsip ‘penggunaan adil’ dalam praktik mereka.

Dalam putusannya, hakim menyampaikan:

            Dalam pandangan saya, Google Books memberikan keuntungan yang signifikan bagi masyarakat. Mereka mempercepat kemajuan dari seni dan sains, dan tetap menjaga kehormatan dari para penulis dan individu kreatif lainnya, serta tidak memberikan dampak negatif terhadap para pemegang hak cipta.

Hakim dengan mempertimbangkan empat faktor tradisional yaitu: tujuan dari penggunaan; jumlah dan subtansialitas dari naskah yang diambil; sifat asal dari naskah yang memiliki hak cipta; serta dampak dari penggunaan terhadap pasar potensial memutuskan bahwa Google tidak menyalahi aturan ‘penggunaan adil’. Konsep ini sendiri telah menjadi undang-undang di Amerika Serikat. Dalam keterangannya, Badan Hak Cipta Amerika Serikat mengatakan bahwa batas antara penggunaan adil dan penyalahgunaan tidak akan selalu bisa ditarik garis yang tegas. Tidak ada jumlah pasti berapa kata, baris, atau catatan yang dapat diambil tanpa mengajukan izin.

 

Penggugat kemudian mengajukan banding ke tingkat selanjutnya sambil mulai melakukan lobi ke Kongres untuk mendukung pendirian lembaga non profit yang mirip dengan ASCAP yang akan berfungsi untuk mendigitalisasi dan melisensi buku-buku dari semua penulis yang tergabung dan disalurkan kepada perpustakaan, sekolah, dan organisasi lainnya yang membayar biaya berlangganan. Banding ini pun kemudian ditolak pada 16 Oktober 2015.

 

Authors Guild tidak berhenti begitu saja. Mereka kemudian melanjutkan gugatannya ke Mahkamah Agung. Dan lagi-lagi gugatan mereka dinyatakan ditolak.

robinson1_si-303x335

Roxana Robinson, presiden Authors Guild 2016

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Senin, waktu setempat, Authors Guild mengatakan bahwa keputusan Mahkamah Agung akan menempatkan para penulis dalam ancaman penyalahgunaan hak cipta. Penolakan yang diberikan oleh Mahkamah Agung semakin membuktikan tergadinya pendistribusian ulang kekayaan dari sektor kreatif ke sektor teknologi, yang tidak terjadi hanya pada buku namun pada spektrum yang lebih beragam dari kesenian.

Google, sebagai tanggapan atas keputusan Mahkamah Agung mengeluarkan pernyataan bahwa para penulis dan pembaca justru seharusnya berterimakasih dengan usaha yang telah diperbuat Google. Google Books memberikan kemudahan yang sangat dramatis dalam hal pencarian buku yang sesuai dengan minat.

Jika ada yang tertarik untuk membaca putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, bisa membacanya di sini.

Nawir

Seorang pembaca buku, pecinta alam semesta, penyuka filsafat, penonton film.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>