Interview Dengan Adithyan Asokan – CEO dan Founder AyoBis.com

Beberapa hari yang lalu redaksi aitinesia sempat bertemu dengan Adithyan Asokan – CEO dan founder AyoBis.com. Pada kesempatan tersebut, kami sempat menanyakan beberapa pertanyaan kepada pria yang biasa disapa Adi ini. Seperti apa pengalaman mendirikan startup di Indonesia, bagaimana AyoBis berbeda dengan kompetitor lainnya, serta pengalaman-pengalaman pribadi Adithyan dalam membangun startup. Berikut selengkapnya.

ayobis

Sebelumnya, bagi yang belum familiar dengan apa itu AyoBis dapat mampir ke halaman berikut: AyoBis.

Jika sudah, mari kita simak interview berikut:

 

aitinesia (ai): Bisa diceritakan mengenai asal usul AyoBis kepada para pembaca kami?

Adithyan Asokan (AA): Tentu saja. Alasan mengapa kami membuat AyoBis adalah karena kami melihat adanya permasalahan efisiensi dalam transportasi (bus) di Indonesia. Di ibukota, Jakarta, kita dapat menemui banyak pilihan transportasi (bus) dengan layanan yang cukup baik dengan e-ticket. Namun untuk perjalanan antar kota seperti ke Bandung atau Surabaya, meskipun banyak pilihan operator bus, belum ditemui layanan e-ticket. Jadi jika kita ingin membeli tiket, kita harus pergi ke agen atau calo. Permasalahan yang timbul ketika membeli di agen adalah mereka melayani banyak operator, dan ketika kita hendak memesan tiket, mereka akan menghubungi operator tersebut untuk menanyakan ketersediaan tiket. Sedangkan pada calo, harga tiket yang dijual jadi lebih mahal dan tidak transparan.

Kemudian kami berpikir, hey, bagaimana jika kita menyediakan sebuah sistem bagi pengguna bus untuk dapat secara langsung mengecek ketersediaan bus di berbagai operator tanpa harga yang menjadi bertambah mahal. Juga tanpa booking fee. Dari sanalah muncul ide untuk membuat AyoBis.com.

ai: Sebagai warga negara India yang hidup di Singapura, apa motivasi Anda meluncurkan AyoBis.com di Indonesia?

AA: Sebelum ini sebenarnya saya pernah tinggal di sini (Jakarta), dan saya cukup paham mengenai seluk beluk transportasi di sini. Kemacetan begitu banyak terjadi disebabkan banyaknya mobil. Di tempat saya tinggal (Singapura) jumlah mobil dibatasi. Masyarakat diarahkan untuk menaiki MRT. Di sini (Indonesia) sebenarnya banyak operator bus yang dapat diarahkan sebagai pengurai kemacetan, namun sayangnya sistem penjualan tiketnya saya rasa kurang begitu baik. Sistem seperti AyoBis saya rasa dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Inilah yang menyebabkan saya merasa termotivasi untuk membuat AyoBis.

Disisi lain pengguna internet dan smartphone di sini tumbuh semakin banyak, orang-orang juga sudah mulai terbiasa untuk memesan dan berbelanja secara online, serta perkembangan transportasi yang dilakukan oleh pemerintah membuat kami yakin bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk meluncurkan bisnis ini.

 ai: Anda memiliki motivasi, Anda juga sudah memiliki konsep, tapi apakah pada saat Anda memutuskan untuk mewujudkan ide tersebut Anda sudah memiliki tim?

AA: Belum. Saya bertemu Joshua (Runtu, co-founder AyoBis) di bali pada sebuah acara. Kemudian saya berbincang-bincang dengannya dan nampak dia juga seorang enterprener. Kemudian kami berdiskusi mengenai banyak hal. Saya bercerita mengenai apa yang ingin saya lakukan di Indonesia, dan dia juga menceritakan bagaimana dia bisa membantu eksekusinya. Kami merasa kami merupakan tim yang cocok. Setelah sepakat saya memutuskan untuk kemudian tinggal di Jakarta dan menjalankan bisnis ini.

Setelah itu kami merekrut tim dan hingga kini kami memiliki 8 orang dalam tim kami.

ai: Kamudian, bagaimana Anda memvalidasi ide bisnis tersebut kepada pasar Indonesia?

AA: Kami telah melakukan survei kepada orang-orang di pulau Jawa mengenai bagaimana mereka memesan tiket (bus) saat ini, dan masalah apa yang biasa dijumpai dalam pemesanan tersebut. Hasil yang kami dapat sangat mendorong kami untuk melanjutkan rencana kami.

Juga di India, terdapat layanan yang hampir serupa dengan AyoBis.com bernama Redbus. Saat ini Redbus menjadi penyedia pemesanan tiket bus terbesar di sana. Saya kemudian mempelajari apa yang membuat mereka sukses, apa yang membedakan mereka dengan travel agent lainnya, kemudian saya menyadari bahwa India dan Indonesia tidaklah jauh berbeda; transportasi yang tidak begitu baik, dan pemesanan tiket bus yang masih harus melalui agen atau calo, juga daya beli masyarakatnya. Jadi saya berpikir, ide yang dapat berhasil di India tentunya akan juga berhasil di Indonesia.

ai: Baik, setelah itu pastinya Anda membutuhkan modal untuk memulai AyoBis. Bagaimana Anda mengatasi masalah pendanaan tersebut?

AA: Kami mendapatkan seed funding dari sebuah venture capital di Hong Kong. Dengan dana tersebut kami merekrut orang-orang, melakukan promosi, mengembangkan produk. Dana tersebut saya pikir masih akan cukup sampai 8 bulan ke depan. Setelah itu kami berencana untuk mencari pendanaan seri A.

ai: Konsep, partner, validasi, dan pendanaan. Sepertinya Anda sudah memecahkan hampir seluruh masalah yang dimiliki startup. Bisa diceritakan perjalanan Anda mendapatkan semua itu?

AA: Sebelumnya, ini bukan merupakan startup pertama saya. Jadi saya sudah cukup berpengalaman dengan ekosistem startup. Kemudian yang menurut saya penting adalah mencari partner yang memiliki visi yang sama namun juga mempunyai nilai tambah bagi startup Anda. Menemukan partner (co-founder) yang salah dapat menjadi malapetaka bagi startup Anda. Selanjutnya yang terppenting adalah mencari venture capital.

ai: Sekarang mari kita membahas mengenai AyoBis.com itu sendiri. Saat ini seberapa besar cakupan layanan Anda, dan seberapa besar rencana Anda nantinya?

AA: Kami baru saja meluncurkan aplikasi beta pada 26 November 2014. Dan kami telah bekerja sama dengan salah satu operator bus terbesar di Jakarta: Pahala Kencana. Kami juga saat ini sedang berdiskusi dengan beberapa operator bus lain dan berniat untuk meluncurkan AyoBis secara resmi pada bulan Januari 2015. Pada saat peluncuran, saya pikir Anda dapat menemukan 3 sampai 5 operator bus di AyoBis.com.

ai: Bagaimana dengan cakupan kota ?

AA: Di Januari kami telah menargetkan telah memiliki 3 sampai 5 operator dengan kapasitas masing-masing 50 sampai 100 bus dan akan beroperasi di 20 kota besar di seluruh penjuru pulau Jawa. Secara perlahan kami akan menambahkan jumlah operator dan jumlah kota asal/tujuan.

ai: Bagaimana Anda melihat AyoBis di masa depan – 3 atau 5 tahun yang akan datang misalnya? Apakah Anda memiliki rencana untuk meng-cover seluruh wilayah yang ada di Indonesia?

AA: Di Indonesia ada sekitar 800 operator bus, dan ada 30.000 bus yang beroperasi di seluruh Indonesia setiap harinya. Lebih dari 1,5 juta pengguna bus berkendara menggunakan bus jenis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Jika kita coba rata-ratakan harga tiket sebesar 8 dollar (~100 ribu rupiah), ini sudah menjadi industri dengan nilai milyaran dollar. Lebih tepatnya sekitar 4 sampai 5 milyar dollar. Jadi saya rasa ini merupakan pasar yang luar biasa besar dan saya akan berfokus kepada industri bus AKAP ini. Saya akan tetap menambahkan operator sebanyak mungkin, melayani sebanyak mungkin pengguna dari angka 1,5 juta tersebut. Dan kami berencana di masa depan untuk meraih semua itu dengan tidak hanya mengandalkan website kami saja. Contohnya dengan bekerja sama dengan Indomaret dan Alfamart sebagai outlet-outlet pembayaran. Karena kami sadar bahwa pengguna layanan bus AKAP kebanyakan tidak menggunakan portal web kecuali sedikit. Kami juga menargetkan akan menjadi one-stop solution untuk pemesanan tiket bus antar kota di Indonesia. Selain itu pada beberapa tahun ke depan kami juga berencana akan melakukan diversifikasi seperti chartered bus dan layanan bus pariwisata.

ai: Bagaimana Anda membedakan layanan AyoBis dengan saingan-saingan yang ada?

AA: Pada saat ini saya melihat tidak ada kompetitor yang begitu besar bagi AyoBis. Namun bukan berarti kami tidak memiliki saingan. Easybook adalah salah satunya. Selain itu ada juga catchthatbus dari Malaysia. Lalu apa yang membedakan AyoBis dengan mereka? Kami memberikan usaha yang lebih besar untuk memahami requirement dari operator bus. Oleh karena itulah kami mengembangkan software yang dapat mereka (para operator bus) gunakan bernama BOSS (Bus Operator Software System). BOSS merupakan semacam ERP untuk melakukan manajemen operasi para operator meliputi pengaturan bus, tiket, penumpang. Selain itu dengan BOSS mereka juga dapat menghitung biaya overhead serta keuntungan dari tiap-tiap bus.

BOSS berfungsi sebagai back-end dari AyoBis.com yang digunakan oleh para operator bus. Sehingga sistem yang ada di AyoBis dan operator bus yang telah bermitra menjadi terhubung.Kebanyakan model bisnis yang dianut dalam industri ini sebenarnya seperti calo. Mereka membeli  tiket di depan dari para operator, kemudian menjualnya kembali – hal yang sama saya rasa juga dilakukan oleh pemain besar seperti Traveloka.com dan Tiket.com. Saya menyebutnya Legit Calo. Hal ini tidak membantu para operator bus untuk me-manage inventorinya. Kami membuat BOSS untuk memudahkan para operator untuk mengatur semuanya sendiri. Begitulah bagaimana kami berbeda dengan para saingan kami. Dengan demikian, kami tidak berusaha bersaing atau mengeliminasi para calo dan agen tiket tradisional yang sudah lama hadir. Bahkan kami juga menawarkan hal yang sama (sistem BOSS) kepada para agen sehingga mereka dapat tetap menjalankan bisnisnya dan dengan transparansi yang lebih baik.

Kami juga memberikan laporan beserta analisa terhadap kinerja penjualan tiap bulannya. Saya rasa para pemilik operator bus akan menyukai hal tersebut. Karena semua menjadi transparan. Berapa biaya yang keluar, serta keuntungan tiap bus dapat diketahui dari sistem. Manipulasi terhadap berkas fisik juga dapat dihindari menggunakan sistem tersebut. Dan kami memberikan sistem ini kepada para mitra (operator bus) kami secara cuma-cuma.

ai: Menarik sekali. Namun kalau tadi kita mendengar mengenai sisi supplier dari bisnis AyoBis, bagaimana dengan sisi konsumen? Bagaimana AyoBis berbeda dengan kompetitornya di mata para penggunanya?

AA: Saya telah mempelajari para kompetitor saya. Saya menemukan adanya sebuah kekurangan. Pada website tersebut, jika kita akan memesan tiket, biasanya akan ada jeda waktu tunggu 6 sampai 12 jam sampai tiket pesanan kita mendapatkan respon dari mereka.

ai: 6 sampai 12 jam? (kaget :D)

AA: Ya. 6 sampai 12 jam. Hal ini terjadi karena sepertinya mereka tidak memiliki proses manajemen inventori yang real-time. Ketika mereka menerima pesanan tiket dari web, mereka akan menelpon operator bus tujuan untuk mengkonfirmasi ketersediaan. Setelah itupun masih ada waktu untuk menunggu konfirmasi kembali dari calon penumpang. Hal ini membuat waktu tunggu yang cukup lama.

Hal serupa tidak terjadi dengan AyoBis. Karena AyoBis terhubung dengan sistem  inventori operator, tiket yang dipesan dapat dikonfirmasi dengan segera (real time). Sama seperti kita pergi ke terminal dan membeli tiket dan mendapatkan tiket di tempat dan saat itu juga.

ai: Sebelumnya Anda menyebutkan bahwa AyoBis tidak akan mengambil booking fee. Lalu dari manakah Anda mendapatkan keuntungan? Komisi dari operator bus?

AA: Ya.

ai: Selain itu adakah skema monetisasi lain yang digunakan AyoBis?

AA: Awalnya kami berencana untuk menjual sistem tersebut kepada para operator bus. Namun saat ini kami memutuskan untuk hanya membebankan biaya maintenance saja kepada mereka. Biaya ersebut kami bebankan tergantung seberapa banyak armada bus yang ditangani oleh sistem tersebut. Selain itu saat ini tidak ada.

ai: Sebelumnya Anda bercerita tentang tim Anda yang hanya berjumlah 8 orang. Bagaimana Anda menjalankan startup Anda dengan hanya 8 orang tersebut?

Saat ini kami tengah mencoba menggunakan model ramping (lean model) sehingga tidak membutuhkan banyak orang. Saya sendiri sebagai CEO dan berfokus kepada pengembangan bisnis. Ada Joshua sebagai COO yang bertugas menangani operasional dan menjalin kerja sama dengan para operator bus. Juga ada seorang CTO yang bertanggung jawab pada pengembangan teknologi (situs) yang kami gunakan. Ada 5 orang developer di bawah CTO tersebut.

ai: Wow. Tim yang efesien. Pertanyaan terakhir, sejauh yang kami tahu, para pengguna bus AKAP kami rasa bukan tergolong pengguna yang familiar dengan pemesanan tiket secara online. Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?

AA: Betul sekali. Hal tersebut merupakan tantangan bagi kami. Pertama kami coba mensosialisasikan sistem kami kepada para agen sehingga mereka menjadi penggunanya. Kedua adalah dengan menggandeng outlet ritel sebagai perpanjangan tangan kami seperti Indomaret dan Alfamart sebagaimana yang telah saya sebutkan.

ai: Oke, terakhir. Anda membuka layanan di Indonesia, namun sejauh yang kami lihat, website Anda masih berbahasa Inggris. Apakah Anda akan memberikan layanan Bahasa Indonesia nantinya di situs Anda?

AA: Ha ha. Ya, ya. saya juga menyadari hal tersebut. Saat ini kami tengah mengerjakannya.

ai: Kali ini beneran yang terakhir, apa saran yang Anda berikan kepada para orang asing (foreigner) yang akan membuat startup di Indonesia seperti Anda.

AA: Pertanyaan yang menarik. Pertama-tama yang harus dipahami adalah mengenai Indonesian landscape. Anda boleh saja memiliki ide global, namun Anda harus mengeksekusinya secara lokal. Ini adalah kunci utama. Mereka juga harus memahami sistem legal yang Anda di Indonesia. Berbeda dengan di Singapura misalnya, orang asing hanya boleh memiliki kepemilikan perusahaan sebesar 49% maksimum. Selain itu mereka juga harus mampu membangun kerja sama dengan mitra lokal, seperti menemukan co-founder lokal, juga mitra operasi seperti suplier. Saya rasa demikian.

ai: Lagi (beneran banget), setelah banyaknya tantangan mendirikan startup di Indonesia sebagai warga negara lain, apakah semua yang telah Anda lakukan worth it?

AA. AbsolutelyDi negara berkembang, apapun ide yang kita miliki untuk memecahkan sebuah masalah, besar kemungkinan sudah ada yang melakukannya. Oleh karena itu kita dituntut untuk memberikan nilai tambah. Misalnya saja mengenai pemesanan taksi. Sudah ada yang memecahkannya. Namun kita tetap bisa membuat startup dengan ide yang sama dengan memberikan nilai tambah misalnya aplikasi yang kita buat mampu memesan taksi dalam 1 menit kurang. Sedangkan di Indonesia, saya rasa masih banyak masalah yang belum terpecahkan dengan baik. Jadi saya rasa potensinya sangat besar. Jadi jika Anda memiliki ide yang tepat, kenapa tidak?

ai: Baik. Saya rasa sekian dari kami. Apakah ada pesan-pesan lain yang ingin Anda sampaikan?

AA: Kami berencana akan melakukan grand launching AyoBis pada pertengahan Januari. Lokasinya di Jakarta. Kami akan kabari lagi informasi lengkapnya kemudian.

 

Demikian interview kami dengan Adi, CEO dari AyoBis. Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan mengunjungi kolom komentar di bawah. Terima kasih telah membaca.

galihpermadi

Editor aitinesia. Kalo lagi ga sibuk ngurusin aitinesia, biasanya doi sibuk ngurusin badan. Gemar cabang-cabang olahraga menantang seperti Catur dan Monopoli.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>