Google Glass Hands-On

glass_04

Awal bulan Juni lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mewakili Lab saya di Keio Media Design untuk melakukan demo dan showcase tentang produk kami RingU, di salah satu event terkemuka di Silicon Valley, Calfornia. Acara yang bertajuk Augmented World Expo ini menampilkan produk produk terbaru di bidang Augmented Reality, baik yang masih dalam tahap development, ataupun siap diluncurkan. Acara ini juga dimeriahkan oleh banyak pembicara ahli dalam bidang AR.

Sebagai bagian dari acara ini, para partisipan dapat mengikuti sesi Google Glass Workshop, yang di dalamnya berisi tentang potensi yang dimiliki google glass, dan bagaimana para developers bisa mengembangan aplikasi untuk si kacamata pintar ini. Para partisipan juga mendapatkan kesempatan untuk secara langsung mencoba si kacamata pintar yang pada saat tulisan ini ditulis, masih didistribusikan secara terbatas untuk developers terpilih dengan bandrol $1500.

Saya cukup terkejut saat pertama kali mencoba si kacamata ini karena lebih ringan dari apa yang saya bayangkan. Saya pikir Google cukup sukses untuk membuat device ini cukup ringan sehingga penggunanya merasa nyaman, dan saya tidak begitu merasakan adanya gangguan signifikan saat mengenakannya. Salah satu faktor yang cukup saya khawatirkan adalah, karena keringanannya, kacamata ini terasa tidak cukup solid dan terlihat ringkih.



Setelah puas mengeksplorasi tampak luar dari Google glass, saya mulai mencoba untuk menyalakan dan mengeksplorasi lebih jauh. Dengan perintah suara  “OK, Glass”, secara sekejap screen di depan mata kanan saya menyala dan menampilkan opsi basic feature dari si kacamata pintar ini, seperti mengambil foto dengan built in kameranya, atau untuk sekedar web search. Secara ideal, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dave Lorenzini dari Glassware Foundry pada awal sesi, saat anda mengenakan kacamata ini, anda akan melihat satu layar transparan sebesar 25 inch dalam jarak 8 feet di depan mata anda, yang akan menampilkan berbagai informasi yang anda butuhkan saat itu. Pada kenyataannya saat saya mencoba, yang saya lihat adalah satu layar transparan kecil di sekitar area mata kanan saya, yang menampilkan informasi dalam batas maksimal 2 baris teks. Menurut saya, ada perbedaan dalam jarak pandang optimal pada setiap orang, sehingga dibutuhkan penyesuaian dalam jarak mata dengan prism glass. Memang, pada saat ini display pada google glass masih terbatas pada resolusi 640 x 480 pixel.

Selain dengan perintah suara, anda juga bisa mengoperasikan kacamata ini dengan touch interface. Anda bisa berpindah antar aplikasi dengan melakukan slide gesture pada gagang kanan kacamata. Pada saat mencoba, hanya terdapat sedikit aplikasi standar pada kacamata ini, seperti weather, text message, kamera, dan flight information. Google glass adalah sebuah stand alone device yang dalam penggunaanya anda harus terhubung dengan internet dengan wifi untuk memaksimalkan sebagian besar fiturnya.

Dalam faktor audio, google glass tidak menggunakan standard earphone untuk menyampaikan informasi suara, melainkan dengan teknologi bone induction. Saat mencobanya, saya merasa seperti ada speaker kecil di sekitar bagian atas telinga saya, dan suara terdengar cukup jelas di dalam ruangan. Saya cukup ragu dengan penggunaan di luar ruangan dengan kondisi sekitar yang bising.

Overall, Google Glass masih dalam tahap pengembangan dan menurut saya belum siap untuk diluncurkan ke publik karena keterbatasannya. Meskipun begitu, pada saat ini, si kacamata pintar adalah mainan yang cukup menarik untuk para developers dan early adopters, mengingat potensinya yang sangat besar sebagai salah satu cara yang baru untuk menikmati informasi. Saya cukup yakin pada saat Google Glass siap dinikmati publik, alat ini akan menumbuhkan banyak polemik di masyarakat, terutama dengan faktor privacy.

Apakah alat ini akan sangat membantu keseharian anda? atau hanya memperparah information overload yang bahkan pada saat ini sering terjadi pada keseharian kita. Mari kita lihat dalam beberapa tahun kedepan apakah google glass bisa sukses sebagai alat komunikasi menggantikan telepon genggam, atau hanya sebuah device yang sekedar lewat dan pudar dalam beberapa tahun?

 

Gilang Andi Pradana

Master Candidate in Media Design, Keio University. Tokyo-based Front-End Developer/Designer. Collaborated with designers and developers from another part of the world in some short projects during his visit to Pratt Institute in New York, and Royal College of Art and Imperial College in London.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInYouTube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>