Dengan Dana Rp 300 Miliar, Bhinneka Ingin Kembali Menggebrak Pasar E-Commerce Indonesia

Bhinneka1

Bicara tentang e-commerce, sebelum muncul nama-nama seperti Lazada, BliBli, Elevenia, dan yang terbaru, MatahariMall, Indonesia sebenarnya telah mempunyai sebuah brand besar sejak tahun 1999, yaitu Bhinneka. Walaupun sempat kalah pamor karena berbagai metode promo yang dilakukan pesaingnya, namun hingga saat ini Bhinneka tetap eksis sebagai market leader untuk kategori 3C (Computer/IT, Communication Technology, dan Consumer Electronics) yang meliputi seluruh barang elektronik seperti Laptop, Smartphone, dan Gadget.

Kini Bhinneka kembali mencuri perhatian dengan sebuah berita yang menggembirakan. Bertepatan dengan hari pertama gelaran konferensi Tech in Asia 2015, Bhinneka mengumumkan kalau mereka telah mendapatkan investasi sebesar Rp 300 Miliar dari Ideosource. Tak berhenti sampai di situ, toko online elektronik terbesar di Indonesia ini pun menargetkan untuk segera masuk bursa saham, atau yang biasa dikenal dengan istilah IPO (Initial Public Offering). Bhinneka akan menggunakan dana segar yang baru mereka terima ini untuk meningkatkan kegiatan pemasaran dan memperbanyak jenis produk yang dijual di website mereka. Berhubung Bhinneka merupakan masih terus berjalan dengan biaya sendiri sejak tahun 1999, tidak ada sebutan khusus seperti seed funding, Serie A, atau Serie B, untuk investasi ini.

Mengapa Bhinneka?

Itulah pertanyaan yang muncul pertama kali ketika kabar ini terdengar. Di tengah banyaknya E-Commerce di Indonesia, di mana hampir semuanya juga menjual barang-barang 3C, mengapa Ideosource lebih memilih untuk menginvestasikan dananya di Bhinneka? Sebagai catatan, nilai Rp 300 Miliar yang diberikan kepada Bhinneka merupakan investasi terbesar yang pernah diberikan oleh Ideosource kepada sebuah perusahaan. Untuk itu, sang Managing Partner Ideosource, Andi S. Boediman, punya jawabannya.

“Bhinneka memiliki brand yang kuat dan terkenal di Indonesia sebagai perusahaan O2O (online-to-offline) di kategori produk 3C (Computer/IT, Communication Technology, dan Consumer Electronics) di mana mereka memiliki toko online dan juga offline,” jelas Andi. Pengalaman kuat Bhinneka dalam melayani konsumen, bisnis, dan pemerintah di Indonesia, juga diyakini bisa membantu Bhinneka untuk memenangkan pasar E-Commerce di Indonesia yang sudah cukup sesak.

Di sisi lain, Hendrik Thio, CEO dari Bhinneka, mengatakan kalau investasi Ideosource tidak hanya berupa dana, tapi juga berupa fasilitas teknologi, jaringan, dan talenta yang bisa dimanfaatkan Bhinneka. “Saya sudah mengenal Andi selama lebih dari 15 tahun, dan hubungan kami berdua sangat baik,” ujar Hendrik.

Andi S. Boediman (Kanan) dan Hendrik Thio (Tengah) mengumumkan pendanaan untuk Bhinneka di event Tech in Asia jakarta 2015

Andi S. Boediman (Kanan) dan Hendrik Thio (Tengah) mengumumkan pendanaan untuk Bhinneka di event Tech in Asia jakarta 2015

Perkembangan pasar e-commerce yang begitu cepat di tanah air, membuat banyak sekali startup dan perusahaan yang bermunculan di Indonesia, baik dari dalam maupun luar negeri. Penjualan retail secara online di Indonesia, saat ini bernilai sekitar USD 2,6 Miliar. Angka ini diperkirakan akan mengalami perkembangan yang pesat hingga mencapai USD 4,49 Miliar di tahun 2017. Namun angka ini masih terbilang kecil apabila kita membandingkan dengan total penjualan retailbaik online maupun offline yang bernilai USD 411,29 Miliar. Ini artinya, 99% penjualan retail masih berlangsung secara offline, dan masih besar sekali peluang untuk para pemain e-commerce untuk berkembang.

Melihat situasi di Indonesia saat ini, Hendrik mengatakan kalau industri e-commerce di tanah air masih dibangun berdasarkan teknik pemasaran dan subsidi potongan harga. Kesalahan sedikit saja, bisa berakibat fatal. Untuk itu, Bhinneka bertekad untuk menjalankan aktivitas pemasaran dengan cara yang lebih pintar. Bhinneka berencana untuk memusatkan pengembangan produk untuk perangkat mobile dan media sosial. 2 media tersebut akan mereka gunakan untuk berbagi ulasan produk, dan penawaran-penawaran menarik.

Mengawinkan Bisnis Online dan Offline

Sejak berdiri tahun 1999, Bhinneka telah mengembangkan bisnisnya secara bertahap dan memenangkan kepercayaan konsumen Indonesia secara online dan offline. Dan menurut Andi, ini merupakan salah satu keunggulan Bhinneka dibanding para pesaingnya yang hanya bergerak di ranah online. Bhinneka tidak hanya mengincar pasar penjualan retail secara online yang hanya sekitar 1%, tapi mereka bertekad untuk mengincar 100% pasar retail, baik online maupun offline.

Saat ini, Bhinneka sudah mempunyai kantor di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan Bandung. Bahkan karena produk elektronik yang mereka jual cukup rawan mengalami kerusakan, Bhinneka pun mempunyai rencana untuk membuat service center sendiri. Di sisi lain, mereka juga melakukan kurasi yang ketat untuk semua produk yang mereka jual, agar selalu memuaskan dan tidak perlu masuk ke service center tersebut nantinya.

Bhinneka

Dengan perpaduan penjualan online dan offline tersebut, Bhinneka pun masih terus bisa berjalan dan mendapatkan keuntungan hingga sekarang. Website mereka kini telah mempunyai 70.000 jenis produk dengan 180.000 kunjungan setiap harinya. Sedangkan untuk sektor offline, mereka mengalami pertumbuhan sekitar 61% pada tahun ini. Hal ini akan terus mereka pertahankan, bahkan setelah mendapatkan pendanaan dari Ideosource. Bhinneka bertekad untuk tetap menjadi bisnis yang menguntungkan, dan tidak sekedar mengejar jumlah pengguna yang banyak dengan berbagai macam diskon besar-besaran. Bhinneka ingin tetap menjadi market leader di kategori 3C dengan fokus pada pengalaman pengguna.

Strategi Bhinneka Untuk Mendapatkan Talenta-Talenta Terbaik

Salah satu hal yang sulit dilakukan di tengah persaingan e-commerce yang begitu ketat, adalah mendapatkan talenta-talenta terbaik. Namun Bhinneka beruntung, karena setelah pendanaan ini, beberapa nama besar akan masuk ke dalam jajaran pimpinan mereka. Betti Alisjahbana (Mantan Presiden Direktur IBM Indonesia) akan bergabung sebagai Chairman, Christian Van Schoote (Mantan Direktur Central Retail Corporation dan Mitra Adi Perkasa Indonesia) masuk sebagai COO, dan Heriyadi Janwar (Mantan Senior Product Marketing Manager di Microsoft) akan mengisi jabatan Wakil Presiden bidang Corporate Sales. Andi S. Boediman sendiri, bersama Edward Ismawan sebagai Managing Partner Ideosource, akan mengisi jabatan tertinggi di Bhinneka untuk bidang pemasaran dan pengembangan bisnis.

Saat ini, Bhinneka telah mempunyai 630 karyawan yang tersebar di berbagai kota. Jumlah tersebut akan terus bertambah pasca pendanaan ini, khususnya di bidang teknologi dan pemasaran. Dan untuk meraih talenta terbaik di bidang-bidang tersebut, Bhinneka tidak hanya menawarkan gaji dan tempat bekerja yang nyaman, namun juga opsi saham bagi karyawan. Dengan begitu, mereka berharap bisa mendapatkan karyawan yang tidak hanya baik tapi juga loyal.

Bagaimana menurut anda, apakah Bhinneka akan bisa bersaing dengan e-commerce lainnya pasca pendanaan ini? Untuk rencana IPO mereka, akankah berhasil?

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>