Cerita Unik di Balik Lahirnya BukaLapak dan Pesan Achmad Zaky untuk Startup Indonesia

Achmad Zaky BukaLapak

Mungkin saat ini, sudah banyak masyarakat Indonesia yang mengenal e-commerce BukaLapak.com. Iklan mereka bisa kita lihat di televisi, media cetak, bahkan kita pun bisa melihatnya di badan bus TransJakarta. Yup, BukaLapak memang merupakan salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, selain Tokopedia, Lazada, BliBli, dan yang terbaru, MatahariMall. Namun mungkin banyak di antara pembaca yang belum mengenal sosok pendiri sekaligus CEO saat ini, yaitu Achmad Zaky. Lulusan Institut Teknologi Bandung ini ternyata punya cerita unik di balik pengalamannya membangun BukaLapak.com.

Bandung Itu Spesial

Dalam sebuah kesempatan, redaksi Aitinesia berhasil menemui Achmad Zaky di kota Bandung, dalam acara tur IDByte 2015. Beliau mengatakan kalau Bandung merupakan kota yang spesial. Di sana ia mulai merasakan iklim persaingan yang kompetitif, berbeda dari apa yang ia alami di kota asalnya, Solo. Di kesempatan lain, kami sempat bertemu dengan salah seorang teman Zaky ketika sekolah di Solo, dan ternyata Zaky memang sudah terkenal sebagai orang yang jago komputer sejak SMA, padahal saat itu belum banyak orang yang mengerti komputer. Karena itu, wajar kalau Zaky yang seperti tak ada lawan semasa SMA, langsung bersemangat ketika ia menemukan persaingan yang positif saat ia menjalani kuliah di kota Bandung.

Achmad Zaky lahir dan besar di tengah sebuah keluarga yang konvensional, di mana kesuksesan diukur dari diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Bank, dan profesi-profesi lain yang seperti itu. “Minimal kamu kerja di perusahaan yang terkenal, biar enak nanti kalau cerita sama orang,” Zaky masih ingat betul pesan orang tuanya saat itu. Namun saat itu ia merasa kalau sebagai anak kuliahan, ia tidak harus bekerja untuk orang lain, namun ia harus membuat lapangan kerja yang baru. Ia pun bertekad untuk menjadi seorang entrepreneur.

“Kebanyakan wiraswasta di Indonesia itu hanya menjadi trader, yang memasukkan barang dari luar negeri atau sebaliknya. Ini bisa jadi masalah ketika dollar naik seperti saat ini,” ujar Zaky. Menurutnya, Indonesia butuh entrepreneur yang membuat produk atau layanan yang baru, bukan hanya menjadi trader. Ia membandingkan dengan sebuah riset yang ia lakukan di tahun 2009, saat itu 90% website terpopuler di Tiongkok, adalah buatan penduduk Tiongkok. Ketika ia melihat kondisi di Indonesia, hanya 10% website populer di Indonesia yang dibuat oleh orang Indonesia sendiri. jumlah 10% tersebut pun hanya diisi oleh portal berita, dan website porno.

BukaLapak, Mimpi yang Harus Diperjuangkan

Di tahun 2010, Achmad Zaky mempunyai ide untuk membuat BukaLapak.com. Status sebagai mahasiswa ITB, membuatnya terpacu untuk mewujudkan ide tersebut. Ia pun coba mencari teman untuk sama-sama membangun BukaLapak. Awalnya tak ada yang mau, hingga akhirnya datang Nugroho Herucahyono, yang saat ini menjadi Chief Technology Officer (CTO) dari BukaLapak. Mereka berdua pun mengembangkan website BukaLapak dari sebuah kamar kost di daerah Cisitu, Bandung.

BukaLapak

Ketika tiba saatnya launching, mereka punya harapan besar kalau BukaLapak akan langsung booming, seperti yang kita dengar dari cerita kemunculan Facebook. Dan ternyata … Tak ada sama sekali pengunjung di BukaLapak. Zaky dan Nugroho kaget, namun di saat yang sama mereka sadar kalau untuk bisa sukses, mereka harus memperjuangkan bisnis mereka tersebut. Zaky pun langsung turun ke jalan, mencari orang yang ingin menjual barang, dan memasukkannya ke BukaLapak. Ia bahkan sampai menanyai teman-temannya di Facebook satu persatu, dan apabila ada yang ingin menjual barang, ia minta izin untuk membuatkan akun dan memasukkan barang tersebut ke BukaLapak.

Komentar sinis sempat sampai ke Zaky, “Koq alumni ITB malah jadi orang marketing, kirim Spam ke mana-mana.” Bahkan ada juga yang malah menawarkan Zaky agar banting setir ke bisnis batu bara, minyak, dan semacamnya. Namun Zaky tetap yakin kalau untuk bisa sukses, ia harus rela untuk bekerja ‘kotor’, dan tidak hanya diam di depan komputer. Ia menganggap hal tersebut sebagai sebuah tahap untuk mencapai keberhasilan yang sebenarnya.

Booming Startup di Tahun 2011

Setahun berselang, sejak dibangunnya BukaLapak, Zaky mengakui kalau ecommerce buatannya masih belum mencapai traffic atau jumlah kunjungan yang diharapkan. Selama itu, ia harus membiayai sendiri operasional BukaLapak, dengan cara mengikuti lomba, atau menyelesaikan project yang berkaitan dengan programming. Namun di saat yang sama, kepercayaan diri Achmad Zaky kembali tumbuh, karena di tahun 2011 tersebut, industri digital mulai mendapat sorotan. Kaskus dibeli oleh Djarum, Koprol dibeli oleh Yahoo, dan sebagainya.

BukaLapak Jaminan

Zaky mulai ‘melek’, dan berusaha lebih keras untuk mengembangkan BukaLapak. Hal tersebut akhirnya membawa beliau bertemu dengan seorang investor asal Jepang, yang kemudian mengajaknya ke Jepang. “Di Jepang, semua pemberitaan pasti dikaitkan dengan industri digital, karena memang penggerak utama ekonomi di sana adalah industri digital,” begitu ujar Achmad Zaky menceritakan pengalamannya selama di Jepang. Ia mengisahkan betapa besarnya gedung yang dimiliki Rakuten, raksasa e-commerce Jepang. Ia coba membandingkan dengan BukaLapak yang berkantor di sebuah ruangan kecil.

Anak Muda Indonesia, Teruslah Bekerja

Di akhir perbincangan, Achmad Zaky menitipkan pesan kepada seluruh anak muda di Indonesia, untuk terus giat mengejar mimpi, dan jangan hanya mencoba memecahkan masalah di depan komputer saja. “Turunlah ke jalan, hadapi market, jangan takut kotor-kotoran,” begitu pesan Achmad Zaky. Ia juga mengingatkan kalau komitmen untuk menjadi founder sebuah startup, adalah komitmen untuk tanpa henti mengembangkan bisnis. Menjadi seorang founder bukanlah cara untuk gaya-gayaan bertampil necis atau mempunyai kartu nama, tapi menjadi founder adalah kesiapan untuk menghadapi segala tantangan yang siap menerpa bisnis kita.

Sampai saat ini, Zaky sendiri pun masih berusaha untuk mengembangkan BukaLapak, termasuk dengan mengikuti Distro Dojo, sebuah program pengembangan startup yang diprakarsai oleh firma pendanaan, 500 Startups. Menurutnya, alasan BukaLapak mengikuti program tersebut adalah murni untuk mendapat teknik baru dalam pengembangan bisnis. Sejauh ini, BukaLapak masih berkonsentrasi di pasar Indonesia, yang menurut Zaky sudah cukup besar.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

4 Responses

  1. Salut sama bang achmad zaky :). Saya juga baru baru ini me-rilis app saya: UnSeen It, start up saya yang sudah berulang ulang kali hancur, namun seenggaknya sekarang sudah mulai sedikit berkembang :) Memang, saya juga harus mulai siap dengan segala cacian sama permainan `kotor` :)

  2. Bukalapak memang fenomenal,,,namun mampukah bukalapak meminimalisir upaya segelintir orang yang memanfaatkan bukalapak sebagai ladang penipuan jual beli.Kami dari situs http://www.laporpolisi.com kini telah menampung puluhan laporan penipuan yang terjadi di website e-commerse bukalapak.

    Terimakasih informasinya.Salam kenal

  3. thanks gan buat infonya .. emang bukalapak mang cihuy..

  4. thanks gan buat infonya .. emang bukalapak mang cihuy..top markotop dah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>