Camera360 – Raja Photo Editing

camera360Bila kita mengadakan survey di sekitar kita, apa aplikasi photo editing yang paling sering digunakan di perangkat mobile, mungkin Camera360 (dibaca: camera three-sixty) adalah jawaban yang paling sering kita dengar. Aplikasi ini adalah produk asli China yang dibuat oleh Pingguo, salah satu startup yang berkembang di pusat teknologi China, Chengdu. Saat ini, Camera360 merupakan aplikasi photo editing paling sukses di dunia dengan 180 juta pengguna di lebih dari 200 negara. Para user tersebut rata-rata mengambil 80 juta foto setiap harinya. Tapi akhir-akhir ini, mereka mendapat persaingan yang kuat dari aplikasi-aplikasi serupa, seperti Camera+ dan Afterlight. Semua berusaha menjaring sebanyak mungkin pengguna, dengan menawarkan fitur-fitur dan filter-filter menarik.

Saat ini, seperti yang dikatakan Gary Gu (Direktur Marketing Camera360), mereka saat ini sedang fokus pada pengembangan pasar di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, Filipina, serta di luar wilayah tersebut seperti India. Gu mengatakan kalau selama ini Camera360 disebut sebagai ‘Instagram-nya China‘, padahal dua aplikasi tersebut punya banyak perbedaan. Contoh paling nyata adalah sisi photo sharing (salah satu senjata Instagram) yang tidak pernah dijamah oleh Camera360. Aplikasi ini hanya ingin memfokuskan diri pada pengembangan fungsi editing, seperti slogan mereka ‘Put Art in Your Hands.’

Salah satu fitur Camera360 adalah Easy Camera, yang bisa menyesuaikan foto secara otomatis dengan kondisi panorama sekitar. Ingin membuat fota kolase? Sudah tersedia juga fasilitasnya di sana. Dan sebagai produk keluaran negeri tirai bambu, Camera360 juga memfasilitasi photo-sharing ke aplikasi-aplikasi besar dari negara tersebut, seperti QQ dan WeChat.

Pingguo telah berhasil menjadikan Camera360 sebagai raja di negara asalnya. Tapi itu dirasa belum cukup, mereka pun menyasar pasar lain di Asia yang sebelumnya begitu addict dengan Instagram, Thailand misalnya. Untuk menghasilkan uang, mereka tidak memasang iklan dengan cara yang konvensional. Camera360 hanya memasang frame yang biasanya berisi rilis film atau produk fashion terbaru. Tapi tak bisa dipungkiri, pendapatan mereka saat ini masih belum cukup untuk terus bersaing dengan aplikasi-aplikasi lain. Mereka pun mulai mencoba untuk memasuki bisnis cloud storage, sehingga pengguna tak perlu menyimpan foto hasil editing di ponsel mereka, tapi bisa langsung tersimpan di dunia maya, layaknya Instagram. Hal ini bisa jadi terobosan bagus mengingat teknologi ponsel terbaru yang biasanya hanya menyediakan internal storage yang kecil. Di China sendiri, Pingguo sudah mencoba untuk menjalankan bisnis printing demi memuaskan pengguna yang ingin memesan album, kaos, dan semacamnya.

Pemasukan Camera360 yang lain didapat dari penjualan software development kit yang bisa digunakan oleh perusahaan lain. Di antara yang memakai SDK mereka adalah Tencent dan Xiaomi. Tak ketinggalan Nokia juga memakainya untuk smartphone Lumia mereka, dan terbukti produk tersebut laris keras di wilayah Asia. Gu menambahkan kalau mereka berharap nantinya perusahaan-perusahaan besar seperti Flickr dan Twitter juga menggunakan SDK Camera360.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>