Bersiap Untuk Teknologi Masa Depan

Firstman Marpaung, Norman Sasono, Eddy Taslim (dari kiri ke kanan)

Firstman Marpaung, Norman Sasono, Eddy Taslim (dari kiri ke kanan)

Hari ini, Aitinesia berkesempatan untuk menghadiri Pesta Digital 2014, yang diselenggarakan oleh gabungan Media-Media TI (Teknologi Informasi) yang berada di bawah naungan Grup Kompas Gramedia. Acara ini diadakan selama 2 hari mulai tanggal 29 Maret sampai dengan 30 Maret 2014.

Selain pameran gadget, games, dan inovasi teknologi terbaru, Pesta Digital 2014 juga mengadakan talkshow-talkshow menarik. Salah satu talkshow yang seru, sekaligus sebagai pembuka event ini, adalah talkshow yang berjudul ‘Our Digital Life in Near Future’. Dengan Firstman Marpaung (Intel Indonesia) dan Norman Sasono (Microsoft Indonesia) sebagai pembicara, talkshow ini berusaha menjelaskan kondisi teknologi yang akan kita nikmati di masa depan.

Eddy Taslim, Direktur Grup Digital di Kompas Gramedia, bertindak sebagai moderator talkshow tersebut. Ia membukanya dengan menampilkan slide yang berisi gambar-gambar device wearable. Device wearable adalah perangkat pintar yang melekat di tubuh manusia, dan bisa memberi informasi-informasi tertentu yang diperlukan manusia. Beberapa device yang ditampilkan adalah Nike FuelBand, FitBit dan JawBone yang berbentuk seperti gelang dan berfungsi untuk merekam aktivitas kita sehari-hari. Selain itu ada juga jam pintar Pebble, cincin pintar Smarty Ring yang juga bisa merekam aktivitas kita, dan lain-lain. Beberapa dari device tersebut bahkan sudah bisa dibeli di Indonesia, dan sudah banyak juga yang menggunakannya.

Eddy Taslim juga memperkenalkan sedikit tentang Internet of Things, sebuah konsep di mana Internet bisa masuk di lebih banyak perangkat yang berada di sekitar kita, seperti lampu, kulkas, kompor, dan benda-benda lainnya. Dengan masuknya internet ke dalam benda-benda tersebut, itu berarti kita bisa mengendalikan mereka dari jarak jauh, atau mengaturnya untuk melakukan hal-hal tertentu seperti kulkas yang memberikan peringatan jika ada makanan yang stoknya habis, atau kompor yang bisa mengatur panas secara otomatis sesuai dengan jenis makanan yang sedang kita masak.

Selain 2 konsep di atas, Eddy Taslim juga bercerita sedikit tentang teknologi 3D Printing, yang bahkan telah mempunyai komunitas khusus di Indonesia. Setelah selesai, Eddy pun memberikan kesempatan kepada narasumber pertama, Firstman Marpaung.

Indonesia Go Wearable

Firstman Marpaung mengawali presentasinya dengan menampilkan sebuah video tentang device wearable. Sedikit berbeda dengan gambar-gambar produk yang ditampilkan Eddy Taslim di awal sesi, video tersebut menampilkan perkembangan wearable device yang telah jauh berkembang, hingga mungkin sampai ke tahap pembuatan alat bantu untuk para penyandang cacat.

Selanjutnya Firstman Marpaung juga menayangkan video tentang Internet of Things, khususnya penerapan kamera pintar di jalan raya yang sangat berguna untuk mengatur arus lalu lintas. Bila sebuah kamera sudah ditambahkan fungsi tertentu sehingga bisa mendeteksi kemacetan, kecelakaan, hingga jumlah kendaraan yang lewat, ia bisa mengirimkan hal tersebut ke petugas pusat pengendali lalu lintas yang kemudian bisa mengambil langkah-langkah tertentu hingga arus lalu lintas tetap lancar. Untuk itu, Intel telah meluncurkan Edison, komputer yang sangat kecil, hanya sebesar SD Card, yang memungkinkan untuk membuat kamera pintar tersebut, dan mungkin benda-benda pintar lainnya.

Lalu bagaimana dengan perkembangan teknologi-teknologi tersebut di Indonesia? Nah, untuk itu, menurut Firstman Marpaung, Intel mencoba mengembangkan para programmer di Indonesia untuk bisa mengembangkan device-device wearable maupun konsep Internet of Things. Yang mengetahui kondisi di Indonesia, hanyalah orang-orang Indonesia sendiri, dan hanya merekalah yang bisa memberikan solusi yang tepat. Dan orang-orang Indonesia juga sebenarnya punya potensi untuk itu, sebagai buktinya seorang programmer Indonesia telah berhasil membuat konsep SmartShoe, yang ditandingkan dalam sebuah kompetisi inovasi teknologi di Rumania.

Intinya, Intel berusaha mengajak semua pihak di Indonesia untuk menyadari dan mengembangkan teknologi-teknologi baru ini, dan membuat hal-hal yang sebelumnya hanya ada di film fiksi ilmiah, menjadi kenyataan.

API Untuk Semua

Setelah Firstman Marpaung menyelesaikan penjelasannya tentang device wearable dan Internet of Things, wakil dari Microsoft Indonesia, Norman Sasono, pun maju ke hadapan peserta talkshow. Ia mengawalinya dengan memutar sebuah lagu, dan menantang para peserta untuk menebak nama penyanyi dan judul lagu tersebut, Dan pertanyaan itu pun menjadi mudah terjawab berkat adanya software-software ‘penebak’ judul lagu yang ada di smartphone kita, seperti SoundHound, TrackID, dan Shazam.

Norman pun menjelaskan proses yang dijalankan oleh software-software tersebut hingga akhirnya bisa menjawab permasalahan di atas. Ketika sebuah lagu diputar, gelombang suara yang diciptakan pengeras suara akan masuk ke dalam speaker smartphone kita dan diubah menjadi format digital. Suara yang diterima tersebut kemudian dikirimkan melalui internet ke sebuah cloud server untuk kemudian diproses dan dicocokkan dengan database lagu yang ada di server tersebut. Setelah proses itu selesai, jawabannya akan dikirimkan kembali melalui internet ke smartphone pengguna. Dan voila, dalam waktu singkat nama penyanyi dan judul lagu yang ditanyakan pun bisa diketahui. Hasil tersebut selanjutnya bisa kita bagikan kepada orang lain lewat akun sosial media kita.

Dalam proses tersebut, Norman Sasono menjelaskan, ada 4 teknologi yang digunakan, yaitu:

  • Mobility, kini semua orang menggunakan smartphone dan bisa mengakses internet di mana pun.
  • Cloud Computing, segala hal kini disimpan di sebuah server internet, yang terkadang berada sangat jauh dari kita.
  • Big Data, mencocokkan sebuah data dengan data-data lain yang berada di sebuah database yang besar, sangatlah sulit. Untuk menyelesaikannya dibutuhkan algoritma pemrograman yang rumit.
  • Social Media, semua orang terdorong untuk berbagi apapun dengan orang lain lewat berbagai akun sosial media.

Dan di dalam proses tersebut, ada sebuah hal yang berperan sangat penting terutama untuk menghubungkan aplikasi mobile dengan aplikasi yang terdapat di Cloud Server, yaitu API (Application Programming Interface). API adalah sebuah aturan dan alat yang mengatur cara berkomunikasi antara dua aplikasi yang berbeda. Ia adalah kebalikan dari User Interface, yang cenderung mengatur cara berkomunikasi antara aplikasi dengan pengguna (manusia). Nah, menurut Norman, API ini adalah inti dari teknologi Internet of Things.

Berapa dari kita yang membuka Twitter dari website resminya, sangat sedikit bukan? Kita lebih suka membuka Twitter lewat aplikasi mobile, baik yang resmi dibuat Twitter atau yang dibuat oleh pihak lain seperti UberTwitter, Echofon, TweetCaster, TweetDeck, dan lain-lain. Semua aplikasi itu bisa terhubung dengan database Twitter lewat API yang kita bicarakan sebelumnya, dan hal itu menjadi sebuah trend. Saat ini, 75% permintaan akses yang diterima Twitter, bukanlah dari website mereka sendiri, melainkan dari API.

Jadi, menurut Norman Sasono, API akan menjadi cara utama kita untuk berkomunikasi dengan internet dalam beberapa tahun ke depan. API adalah The Next Big Thing. Dan untuk itu Microsoft pun mengajak para programmer Indonesia untuk mengembangkan API.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. galih says:

    infonya menarik mas, bisa memberi wawasan, isinya menarik & pas untuk di share kepada temen2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>