Benarkah Evernote Akan Menjadi Startup Unicorn Pertama yang Mati?

Evernote Logo

Unicorn pada awalnya dikenal sebagai nama untuk sebuah hewan mistis berbentuk kuda bersayap dengan tanduk kerucut. Unicorn digambarkan sebagai sebuah hewan yang penuh keajaiban. Oleh karena itu, di dunia teknologi, nama Unicorn digunakan sebagai sebuah istilah untuk semua startup yang (dengan penuh keajaiban) telah memiliki valuasi 1 Miliar Dollar atau lebih. Karena itu, semua startup yang ada di dunia ini pun coba dikumpulkan, dan yang memenuhi syarat nilai valuasi tersebut akan dimasukkan ke dalam sebuah daftar yang bernama Unicorn Club.

Unicorn Club diisi oleh startup-startup terkenal yang namanya mungkin sudah sering anda dengar, seperti Snapchat, Uber, Pinterest, termasuk layanan penyimpanan catatan multi platform, Evernote. Startup yang didirikan oleh Phil Libin pada tahun 2007 ini, sudah menjadi anggota tetap Unicorn Club sejak tahun 2012. Saat itu, jumlah anggota Unicorn Club masih sedikit, tidak sebanyak sekarang yang totalnya mencapai angka 140 startup. Ketika Evernote bergabung, di dalam Unicorn Club saat itu baru ada Xiaomi, Airbnb, Dropbox, dan startup-startup ‘tua’ lainnya. Beberapa lulusan Unicorn Club ada yang sudah berhasil untuk menjadi perusahaan besar yang sebenarnya, seperti Facebook dan Alibaba yang kini sudah masuk di bursa saham Amerika Serikat. Ada juga anggota Unicorn Club lainnya yang lebih memilih untuk diakuisisi oleh perusahaan lain yang lebih besar, seperti yang terjadi pada Instagram dan WhatsApp ketika dibeli oleh Facebook. Anggota Unicorn Club yang lain pun seperti tengah mengantri untuk meraih kesuksesan seperti startup-startup yang telah ‘lulus’ tadi.

Evernote, Aplikasi Catatan yang Tanpa Pembaruan

Begitu besarnya potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh para anggota Unicorn Club, hingga tak mungkin rasanya kalau mereka akhirnya bangkrut. Karena itu, banyak yang kaget ketika Josh Dickson, seorang entrepreneur yang juga merupakan founder dari platform content Syrah, membuat artikel dengan judul yang fenomenal: Evernote, Unicorn pertama yang mati. Artikel ini langsung mengundang perdebatan, bagaimana bisa Evernote, yang merupakan salah satu anggota Unicorn Club dengan valuasi sekitar 2 Miliar Dollar, bisa dikatakan mati?

Evernote

Menurut Josh, ada beberapa hal yang membuatnya berpendapat seperti itu, di antaranya:

  1. Bertahun-tahun Phil Libin merangkap banyak sekali jabatan. Seperti tak ada peluang sama sekali bagi karyawan Evernote untuk berkembang dan meraih kenaikan pangkat. Ini membuat iklim yang tidak sehat di dalam Evernote.
  2. Sudah lama sekali Evernote tidak membuat produk yang bagus dan diterima dengan baik oleh para penggunanya. Baru-baru ini mereka memang meluncurkan fitur Chat. Namun fitur itu dianggap sebagai sebuah fitur yang sia-sia oleh banyak pengguna.
  3. Makin banyak pesaing dengan produk yang tidak lebih buruk, Microsoft OneNote contohnya. Bukti lain, rank dan jumlah review Evernote yang kian menurun.
  4. Tanda paling jelas dari kian suramnya masa depan Evernote adalah pemecatan terhadap puluhan karyawannya, dan penutupan kantor perwakilan di beberapa kota, termasuk di Singapura. Mereka menyebutnya sebagai langkah efisiensi.

Dari alasan-alasan di atas, tampaknya sangat logis kalau Josh menyimpulkan kalau Evernote akan mati. Namun ia kemudian membuat sebuah artikel lanjutan yang menjelaskan kalau kata ‘mati’ yang ia maksud adalah Evernote tidak akan berkembang lebih lanjut. Ia tidak berpendapat kalau Evernote akan menghentikan operasinya dalam waktu dekat. Josh sendiri mengatakan kalau ia yakin kalau Evernote akan tetap beroperasi karena mereka masih punya uang yang cukup. Namun bila mereka terus seperti ini, maka kematian dalam arti yang sesungguhnya seperti tinggal menunggu waktu saja.

Uniknya, artikel Josh Dickson ini sejalan dengan pernyataan Danielle Morrill, CEO dan Founder dari Mattermark, pada bulan April 2015 silam. Menurutnya, ada beberapa startup berstatus Unicorn yang memang dalam kondisi bahaya. Hal ini bisa dilihat dari trend yang disediakan oleh layanan Mattermark, yang memang sering digunakan para investor untuk melakukan analisa terhadap startup yang ingin mereka beri pendanaan / funding. Menurut Danielle, beberapa ciri startup yang akan ‘mati’ adalah menurunnya jumlah tenaga kerja, dan menurunnya biaya marketing yang diindikasikan dengan menurunnya popularitas mereka di social media. Kebetulan, Evernote pun memenuhi syarat-syarat tersebut. Seperti yang disebutkan di atas, Evernote tengah melakukan pemecatan karyawan dan penutupan kantor, adapun dalam hal popularitas di social media, berikut grafik untuk Evernote :

(Sumber : BusinessInsider)

(Sumber : BusinessInsider)

Danielle, seperti halnya Josh, mengatakan kalau startup-startup dengan kriteria di atas mungkin tidak akan langsung ‘mati’, namun bisa dipastikan kalau mereka akan kesulitan dalam mencari dana segar untuk mendanai bisnis mereka.

Kalau Evernote Mati, ke Mana Kita Harus Beralih?

Saya sendiri merupakan seorang pengguna aktif Evernote. Hampir setiap hari saya menggunakan Evernote, bahkan hampir semua artikel di website ini dibuat draftnya di dalam Evernote. Alasan utama saya menggunakan Evernote adalah sinkronisasi yang bisa dilakukan antara aplikasi Evernote yang ada di perangkat mobile dan yang ada di PC atau Laptop. Dengan begitu, saya bisa menulis di mana pun dengan perangkat mobile, yang hasilnya kemudian bisa saya edit sedikit untuk kemudian dipublikasikan lewat PC atau Laptop.

Selain keunggulan di sinkronisasi catatan, Evernote juga punya keunggulan di storagenya yang tak terhingga, dan gratis biaya pemakaian. Kita hanya harus membayar apabila kita telah melewati batas pemakaian bulanan yang mereka tetapkan (sekitar 60 MB). Saya sendiri tidak pernah melewati batas pemakaian tersebut.

Dengan semua keunggulan tersebut, saya pun terus bertahan menggunakan Evernote, hingga artikel Josh Dickson muncul. Sebagai pengguna aktif, mulai muncul kekhawatiran apabila Evernote benar-benar tidak bisa digunakan lagi. Saya pun mulai memikirkan ke mana saya harus memindahkan catatan saya? Dan aplikasi apa yang harus saya gunakan sebagai pengganti Evernote? Karena artikel Josh Dickson di atas menyebutkan aplikasi OneNote yang dibuat oleh Microsoft, saya pun mencobanya. Perbandingan antara Evernote dan OneNote bisa dilihat di tabel berikut :

(Sumber : TechRepublic)

(Sumber : TechRepublic)

Selain OneNote, ada juga beberapa aplikasi catatan lain yang bisa digunakan sebagai pengganti Evernote, yaitu Google Keep, SimpleNote (yang dibuat oleh Automattic, pembuat WordPress), dan lain-lain. Sejauh ini, saya belum bisa menemukan hal menarik dari aplikasi-aplikasi lain tersebut, yang bisa membuat saya berpaling dari Evernote. Google Keep dibuat dengan desain yang berbeda dengan Evernote, sementara SimpleNote belum mempunyai aplikasi untuk sistem operasi Windows. So Evernote, please keep alive!

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>