BajaiApp Padukan Sisi Online dan Offline Menjadi Sebuah Strategi Marketing yang Menarik

BajaiApp BajajAppDi tengah hingar bingar persaingan ojek online, ada sebuah layanan transportasi online yang juga mencuri perhatian, BajaiApp namanya. Dari namanya saja kita sudah bisa mengetahui kalau kegunaan aplikasi ini adalah untuk memesan Bajaj secara online. Namun kenapa namanya Bajai, dan bukan Bajaj? Awalnya memang aplikasi ini bernama BajajApp, sebelum kemudian diganti menjadi BajaiApp. Pihak BajaiApp sendiri mengatakan kalau hal ini memang untuk membuat unik saja. Namun kami berpendapat kalau perubahan tersebut lebih karena kesamaan nama dengan merek sebuah produsen motor. Bahkan di Android PlayStore pun ada juga aplikasi bernama Bajaj, yang merupakan sebuah aplikasi keuangan.

Di awal kemunculannya, website kesayangan anda ini langsung mereview aplikasi tersebut, yang kemudian diikuti oleh interview dengan orang yang ada di balik pembuatan aplikasi ini. Dan sampai saat ini, kami pun masih mengikuti perkembangan BajaiApp ini beserta strategi pemasarannya yang tergolong menarik. Bagaimana tepatnya cara BajaiApp untuk menarik perhatian masyarakat?

Berbagai Strategi Marketing BajaiApp di Awal Kemunculannya

Disadari atau tidak, sebenarnya BajaiApp sudah banyak melakukan strategi marketing, terutama lewat jejaring sosial. Penulis sendiri pertama kali mengetahui tentang BajaiApp dari sebuah postingan jejaring sosial Facebook di awal bulan Agustus 2015 (Saat itu masih memakai nama BajajApp).

Postingan Pertama BajajApp yang Penulis Lihat

Postingan Pertama BajajApp yang Penulis Lihat

Penulis kemudian mulai mendalami apa itu BajaiApp, sekaligus mencoba menghubungi orang-orang di baliknya. Kami pun berhasil mewawancarai Sriyadi, salah satu orang di balik aplikasi BajaiApp, yang akhirnya bercerita panjang lebar tentang latar belakang pembuatan BajaiApp, serta rencana mereka untuk berkoordinasi dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta. Hal itu kemudian berjalan baik, Organda menyetujui kehadiran BajaiApp karena memang Bajaj merupakan salah satu kendaraan umum resmi di DKI Jakarta. Situasi ini berbeda dengan Uber dan rombongan ojek online yang bukan merupakan kendaraan umum resmi, sehingga sedikit terkendala dalam mendapat izin. Dari sini, BajaiApp seperti meletakkan fondasi yang kuat karena operasional mereka tidak melanggar regulasi apa pun, sehingga ke depannya tidak akan ada rintangan dari soal perizinan.

Kemudian BajaiApp mulai dihubungi (atau menghubungi) banyak media, yang akhirnya meliput keberadaan mereka. BajaiApp pun muncul di berbagai media, baik media online maupun televisi. Bahkan mereka sempat masuk di acara talkshow terkenal yang dipandu oleh pesulap Deddy Corbuzier, Hitam Putih.

BajaiApp di Acara Hitam Putih

BajaiApp di Acara Hitam Putih

Berbeda dengan Gojek dan GrabBike yang pengemudinya banyak kita lihat berseliweran di jalanan ibu kota, pengemudi BajaiApp sangat jarang sekali terlihat, kecuali di daerah Jakarta Utara yang merupakan lokasi kantor pusat BajaiApp. Itulah mengapa setelah sukses menjadi bahan berita di televisi dan media online, BajaiApp pun berusaha semaksimal mungkin untuk ‘tampil nyata’. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan melakukan promo di ajang Car Free Day, serta membagikan brosur di mall-mall dan pameran-pameran.

BajaiApp di Acara Car Free Day

BajaiApp di event Car Free Day

Seluruh aksi ini mereka balut dengan akun jejaring sosial yang super aktif. Apabila kalian mengikuti aktivitas akun Facebook resmi BajaiApp, kalian bisa melihat bagaimana mereka sering sekali berbagi berita terkait kendaraan Bajaj di berbagai negara, hingga komentar-komentar positif terkait Bajaj berbahan bakar gas. Selain itu, demi memperbanyak penggemar, mereka pun sering mengadakan kuis online seperti lomba fotografi atau lomba selfie berhadiah.

Sebuah Konvoi yang Menarik Perhatian

Puncak dari strategi marketing BajaiApp adalah sebuah acara launching yang diadakan di Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Acara yang diadakan pada hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2015 yang lalu itu ditandai dengan pelepasan ratusan Bajaj di bawah naungan BajaiApp yang melakukan konvoi ke Monas. Acara ini sendiri dihadiri langsung oleh Kepada Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, Andri Yansyah, sebagai wujud persetujuan pemerintah DKI Jakarta akan keberadaan BajaiApp ini.

Bajaj yang bersiap mengikuti konvoi ke Monas

Bajaj yang bersiap mengikuti konvoi ke Monas

Konvoi ratusan Bajaj di hari kerja, sudah tentu akan menarik perhatian masyarakat. Bahkan banyak yang awalnya mengira kalau konvoi Bajaj ini sedang mengadakan aksi demonstrasi. Tak ayal, BajaiApp pun langsung menjadi pembicaraan di sosial media. Bagaikan bola salju yang terus membesar, informasi tentang keberadaan BajaiApp pun langsung menyebar luas.

Kesimpulannya, sebuah strategi marketing yang dimulai dari jejaring sosial, yang dilanjutkan dengan peliputan oleh media massa, terbukti merupakan cara yang terbaik untuk mengawali sebuah kampanye pemasaran. Namun kalau itu dirasa tidak cukup, maka kampanye tersebut bisa dilanjutkan dengan sebuah aksi di dunia nyata, mulai dari yang kecil-kecilan seperti promo di pameran dan Car Free Day, hingga kampanye besar seperti konvoi yang dilakukan BajaiApp.

Sebuah Masalah yang Tersisa

Berbeda dengan Gojek dan Uber yang bebas menentukan tarif, BajaiApp yang terlanjur berkomunikasi dengan Organda malah jadi terkekang akan aturan tarif yang ditetapkan Organda. Celakanya, tarif yang diberlakukan Organda untuk BajaiApp bukannya murah, malah terhitung cukup mahal, bahkan hampir menyamai taksi. Untuk 2,5 kilometer pertama, tarif BajaiApp adalah sebesar Rp 16.000 sampai Rp 20.000. Lebih dari itu, tarif akan bertambah Rp 2.000 per kilometer. Bila kita memperhitungkan aturan di mana Bajaj tidak boleh melewati jalan protokol, maka itu artinya ia harus memutar-mutar jalan, yang bisa menyebabkan tarifnya bertambah mahal.

Ketua DPD Organda DKI, Safruhan Sinungan, mengatakan kalau tarif ini sebenarnya masih dalam tahap uji coba. Sehingga di kemudian hari, tarif ini bisa berubah sesuai dengan kemauan masyarakat. Namun yang harus diperhatikan, jangan sampai BajaiApp yang merupakan sebuah ide menarik, malah jadi kesulitan mencari pengguna hanya karena tarif yang terkesan coba-coba ini.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

1 Response

  1. Mikaela says:

    Ini dia lucunya organda, bukannya mendukung kok malah menghambat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>