Awas, Jangan Sembarangan Menyebarkan File di Internet

DMCA

Akhir-akhir ini, keamanan privasi seseorang di internet benar-benar menjadi isu yang besar. Pada tahun 2006, Julian Assange, seorang aktivis internet asal Australia membuat Wikileaks, sebuah website yang mengkhususkan diri untuk berbagi dokumen-dokumen rahasia. 3 tahun berselang, muncul Alexei Navalny, seorang pengacara asal Rusia yang aktif berbagi informasi tentang korupsi di negaranya. Puncaknya, pada bulan Mei 2013, seorang ahli komputer asal Amerika Serikat, Edward Snowden, membocorkan informasi kalau National Security Agency (NSA), sebuah badan intelejen Amerika Serikat, telah menyadap seluruh komunikasi Internet di negara tersebut. Dan tak terhitung lagi kasus-kasus kecil terkait privasi di internet yang langsung menyedot perhatian dunia.

Kasus-kasus tersebut membuat semua orang menjadi khawatir. Para pengguna internet khawatir kalau ada pihak lain yang ‘melihat-lihat’ aktivitas mereka di dunia maya, dan mereka tidak menyukainya, sekalipun itu pemerintah mereka sendiri. Pihak pemerintah dan badan-badan intelejen dunia pun khawatir kalau kewenangan mereka akan kian dibatasi, dan akhirnya berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan seperti serangan teroris, dan semacamnya. Masyarakat menjadi sering memberikan kecaman terhadap pemerintah, sedangkan pemerintah makin ketat membuat aturan-aturan terkait kebebasan di internet. Dan sebagai pengguna internet biasa, kita harus waspada terhadap dinamika tersebut, terutama soal aturan-aturan yang dibuat pemerintah.

UU ITE di Indonesia

Di Indonesia, ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang berusaha mengatur pertukaran informasi di dunia maya. Pemerintah menutup akses ke beberapa website tertentu yang dianggap menyebarkan hal-hal buruk seperti pornografi, kekerasan, dan sebagainya. Aturan tersebut masih dipertahankan sampai sekarang, walau sebenarnya hal itu tidak efektif karena kita masih bisa mengakses website-website tersebut dengan mengakses jaringan VPN atau menggunakan proxy-proxy tertentu. Etika terkait kebebasan beropini dan penyebaran file di internet juga diatur oleh UU ITE, dan beberapa ‘korban’ telah terjaring olehnya (seperti kasus yang dihadapi @benhan karena tweet yang ia buat).

DMCA di Amerika Serikat

DMCA adalah singkatan dari Digital Millenium Copyright Act, sebuah aturan hukum di Amerika Serikat yang mengatur pemberian layanan dan penyebaran data lewat Internet. Jika hukum ini hanya berlaku di Amerika Serikat, mengapa kita harus tahu tentang aturan ini? Jawabannya adalah karena website-website yang biasa kita akses menyimpan data mereka di sever yang berada di Amerika Serikat. Facebook, Twitter, Dropbox, dan ribuan website lainnya berada di negara adidaya tersebut. Dan seperti juga UU ITE di Indonesia, pihak Amerika Serikat juga begitu ‘keras’ dalam menerapkan DMCA hingga sampai pada tingkatan kriminalisasi pengguna yang melanggar.

Lalu apa kita harus berhenti mengakses website-website tersebut untuk mencegah kiriminalisasi terhadap diri kita? Tenang saja, para pemilik website tersebut juga tidak ingin kehilangan pengguna. Sebisa mungkin mereka akan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada para pengguna mereka.

Contoh yang paling jelas adalah apa yang dilakukan Dropbox. Ketika DMCA melarang penyebaran file rahasia milik pemerintah dan file yang telah mempunyai copyright, maka Dropbox langsung memblokir setiap file-file terlarang yang disebarkan lewat layanan mereka. Dengan begitu, pengguna mereka tidak akan sampai pada tahap kriminalisasi, dan akan selamat dari aturan tersebut.

Apakah itu artinya Dropbox membuka satu per satu file yang kita simpan di file mereka? Jangan khawatir, mereka tidak akan melakukan tindakan tersebut karena (lagi-lagi) mereka takut akan kehilangan pengguna yang kebanyakan tak ingin ada siapapun yang mengintip file-file mereka. Lalu bagaimana mereka melakukannya? Mereka bisa membedakan file yang terlarang dengan cara mencocokkan semacam ‘sidik jari’ file yang dikenal dengan nama Hash. Hash adalah barisan kode khusus yang unik seperti ‘dba8b14a12fe3′. Tidak ada 2 file yang mempunyai Hash yang sama. Dropbox mempunyai database Hash untuk file-file terlarang, dan setiap ada file yang disebarkan lewat layanan mereka, Dropbox akan mencocokkan Hash file tersebut dengan yang ada di database mereka. Bila ada Hash yang sama, maka mereka akan langsung memblokirnya. Dengan konsep Hash tersebut, kita jadi bisa mengetahui tentang identitas suatu file tanpa harus membuka isinya. Dan konsep ini juga telah digunakan oleh mayoritas penyedia layanan Cloud Storage (penyimpanan di dunia maya).

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan agar tidak menjadi seorang ‘kriminal internet’? Berhati-hatilah dalam berbagi apapun di dunia maya, dan pelajari aturan-aturan yang dibuat pemerintah terkait internet.

 

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>