Apakah Layanan Pengantaran Barang Terbaru Uber Mencontek Layanan Go-Jek?

UberRush

Logistik, atau bisnis pengantaran barang dari satu tempat ke tempat lain, merupakan salah satu bisnis yang sangat bernilai. Menurut statistik, pendapatan jasa logistik di Asia Pasifik (selain Jepang dan Tiongkok), bisa mencapai 75 Miliar Dollar, atau sekitar 1.000 Triliun Rupiah. Karena itu, wajar kalau akhirnya banyak pihak yang mengincar ‘emas’ yang terus berputar di bisnis ini.

Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa jasa logistik konvensional yang cukup mapan, dengan banyak sekali cabang di seluruh penjuru Indonesia. Dengan begitu, pengiriman barang jarak jauh pun bisa terlaksana dengan baik. Barang apapun yang dikirimkan lewat jasa logistik tersebut, dapat dipastikan akan sampai di tempat tujuan dengan aman. Namun sayangnya, sistem yang diterapkan oleh jasa logistik yang sudah ada sekarang, tidak bisa mengakomodir pengiriman barang untuk jarak dekat dengan baik. Misalnya, bila kita ingin mengirimkan barang ke alamat yang hanya terpisah belasan kilometer dari rumah kita, barang tersebut harus kita bawa dulu ke agen terdekat, kemudian baru dibawa ke lokasi pengumpulan, dan menjalani berbagai prosedur rumit lainnya. Pengantaran bisa dipercepat hanya kalau kita membayar biaya tambahan.

Go-Jek Memanfaatkan Situasi

Seperti melihat peluang tersebut, Go-Jek, yang bisnis utamanya adalah pengantaran orang alias ojek, pun ikut terjun ke bisnis pengantaran barang. Mereka pun membuat layanan Go-Food untuk pengantaran makanan, Go-Mart untuk pengantaran barang belanjaan, dan Go-Send untuk pengantaran barang-barang lainnya. Armada yang sudah sangat banyak di kota-kota besar, merupakan salah satu kelebihan Go-Jek dalam menjalani bisnis pengantaran barang ini. Armada tersebut bahkan tidak digaji secara rutin, karena mereka juga merupakan tukang ojek yang melayani pengantaran orang, dan mereka pun hanya mendapat komisi dari setiap pengataran yang mereka lakukan. Dengan sistem yang begitu efisien ini, Go-Jek pun akhirnya bisa menghadirkan jasa pengantaran barang yang cepat dan murah. Wajar kalau akhirnya Go-Jek pun seperti menjadi penguasa untuk jasa pengiriman barang jarak dekat di kota-kota besar.

Go-Mart

Perkembangan jasa pengiriman barang ini seolah sejalan dengan perkembangan e-commerce di Indonesia. Dengan hadirnya marketplace besar seperti Tokopedia dan BukaLapak, semakin banyak saja orang yang masuk ke bisnis jual beli online. Bahkan, brand-brand besar seperti Matahari, hingga Alfamart dan IndoMaret pun ikut-ikutan membuat e-commerce. Mereka tentu saja membutuhkan armada logistik yang handal dan dapat dipercaya. Itulah mengapa bisnis pengantaran barang, baik untuk kebutuhan jual-beli online, kebutuhan kantor, hingga kebutuhan pribadi, tampaknya akan terus berkembang dan menjadi semakin menguntungkan dalam beberapa tahun ke depan. Apabila Go-Jek mampu memanfaatkan situasi ini di saat belum ada pesaing yang cukup besar, tentunya Go-Jek akan berkembang jauh lebih besar dari sekarang.

Perang Jasa Pengiriman Barang di Amerika Serikat

Dari Indonesia, kita beralih ke Negeri Paman Sam. Tak jauh berbeda dengan di Indonesia, kota-kota besar di Amerika Serikat pun semakin membutuhkan keberadaan jasa logistik, terutama untuk memuaskan hasrat mereka untuk terus berbelanja dan membeli barang secara online. Apalagi dengan kesibukan kerja yang semakin padat, warga Amerika pun kini mulai membiasakan diri untuk memesan makan siang secara online. Mereka butuh layanan yang bisa mengantarkan apapun dengan cepat dan murah.

Untuk mewujudkan layanan yang mereka inginkan, tentu dibutuhkan armada pengemudi dalam jumlah yang banyak. Dan sepertinya, di Amerika Serikat, tidak ada yang mempunyai armada pengemudi yang lebih banyak dari startup penyedia layanan taksi online, Uber. Itulah alasan mengapa Travis Kalanick, CEO dari Uber, sudah lama mempunyai mimpi untuk masuk ke bisnis pengantaran barang. Layaknya Go-Jek di Indonesia, Uber punya potensi untuk menjadi penguasa di bisnis pengantaran barang jarak dekat di Amerika Serikat. Pada bulan April 2014 silam, mereka pun mewujudkan mimpi tersebut dengan sebuah layanan yang bernama UberRUSH.

Uber memulai pengujian UberRUSH di kota New York, dengan menggunakan armada pengendara sepeda dan pejalan kaki. Menurut mereka, kedua jenis pengemudi tersebut tentu lebih bisa diandalkan di tengah padatnya lalu lintas di kota New York. Di masa-masa awal tersebut, mereka sebenarnya hanya melayani pengiriman sesama pengguna, seperti yang sekarang dilakukan oleh Go-Jek di Indonesia. Namun ternyata jumlah pengiriman barang antar pengguna Uber sangatlah sedikit. Karena itu, mereka pun merubah strategi bisnis mereka, dan mulai menjalin kerja sama dengan retailer-retailer yang menjual barang secara online. Mereka pun bekerja sama dengan ‘rumahnya’ para pebisnis online di Amerika Serikat, yaitu Shopify dan BigCommerce. Dan hasilnya, UberRUSH pun resmi digunakan oleh ribuan pelaku bisnis di New York. Merasa yakin dengan konsep bisnis UberRUSH, Uber pun mengembangkan layanan tersebut ke Chicago dan San Fransisco. Kali ini, di dua kota tersebut, Uber mulai menggunakan mobil sebagai sarana pengantaran barang.

Postmates

Di Amerika Serikat sendiri sebenarnya sudah banyak aplikasi pengantaran barang yang terkenal, dan menjadi pesaing langsung dari UberRUSH. Deliv, Postmates, dan Sidecar, adalah beberapa contoh nama layanan pengantaran barang yang populer di Amerika Serikat. Salah satu dari mereka, Postmates, bahkan telah menjalin kerjasama resmi dengan perusahaan besar seperti Apple dan Starbucks, untuk menjadi rekanan jasa pengiriman produk-produk mereka. Dengan begitu, berbeda dengan Go-Jek yang seperti menikmati sendiri bisnis ini di Indonesia, Uber harus berhadapan dengan banyak sekali pesaing dalam bisnis yang sama.

Perbedaan Pengantaran Barang ala Go-Jek dan ala Uber

UberRUSH dan Go-Jek (dengan fasilitas pengiriman barangnya), walaupun sekilas terlihat sama, namun keduanya punya sistem bisnis yang sangat berbeda. Bila kita ingin menggunakan Go-Jek, kita harus terlebih dahulu menginstall dan masuk ke aplikasi Go-Jek. Setelah itu, baru kita bisa meminta si pengendara Go-Jek yang menerima pesanan kita, untuk membelikan barang di pusat perbelanjaan, atau makanan tertentu di restoran. Si pengendara Go-Jek tersebut harus membeli langsung ke toko yang dituju, dan membayar terlebih dahulu dengan uang yang ia miliki (kecuali bila si pemesan menggunakan Go-Jek Credit).

Sedangkan UberRUSH, mereka memilih untuk menjalin kerjasama secara langsung dengan penjual barang di dunia maya. Jadi, si pembeli tetap membuka situs atau aplikasi mobile milik si penjual barang tersebut, tanpa harus menginstall atau membuka aplikasi Uber terlebih dahulu. Ketika si pembeli sampai pada halaman pembayaran, pembeli akan mendapatkan suatu pilihan ‘pengantaran dengan UberRUSH’. Apabila pembeli memilih pilihan tersebut, Uber akan langsung menjemput barang yang dimaksud di tempat penjual dan mengantarkannya ke lokasi si pembeli. Seorang pembeli akan mendapatkan sebuah link, yang apabila dibuka bisa menunjukkan lokasi pengendara UberRUSH yang mengantarkan barang pesanannya.

Lebih jelas tentang layanan UberRUSH, silakan simak video berikut:

Sistem yang digunakan UberRUSH ini dinilai lebih aman dari sisi pengendara Uber karena barang yang ia antarkan pasti akan dibayar. Tak hanya itu, bila memungkinkan, seorang pengendara Uber pun bisa membawa lebih dari 1 barang pesanan sekaligus. Sistem tersebut pun bisa mencegah kasus penolakan pesanan seperti yang terjadi pada seorang pengemudi Go-Jek.

Go-Jek sendiri sebenarnya sudah banyak dimanfaatkan oleh penjual online untuk mengantarkan barang ke pembeli, seperti yang biasa kita lihat di Kaskus dan lapak-lapak jual beli lainnya. Namun sistem Go-Jek tersebut masih mengandalkan model pengiriman konvensional, di mana si pembeli atau penjual harus menginstall dan menggunakan aplikasi Go-Jek terlebih dahulu.

Bila UberRUSH menghadapi persaingan yang sengit di Amerika Serikat, bukan tidak mungkin mereka akan beralih ke pasar yang lebih ‘lengang’, yaitu Indonesia. Apalagi mereka sudah mulai mencoba layanan pengantaran barang khusus di wilayah Asia Tenggara. Masih belum bisa dipastikan apakah UberRUSH bisa dibawa oleh Uber ke Indonesia, mengingat layanan mereka sebenarnya masih ‘kucing-kucingan’ dengan pemerintah DKI Jakarta. Namun apabila layanan ini diluncurkan di Indonesia, Go-Jek harus waspada karena mereka kini punya 2 lawan tangguh, GrabBike di bisnis Ojek, dan Uber di bisnis pengantaran barang.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

2 Responses

  1. Praken says:

    GaK KebaliK pak? Ya gak mungkin banget Uber nyontoh go-jek. Kalo nyontoin gojek itu udah pasti!! Lha wong gojek baru seumuran jagung..!!

  2. yah namanya aja bisnis sejenis.. mungkin juga layanannya akan mirip2..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>