Alat Pemberi Pakan Ikan Otomatis eFishery Raih Pendanaan dari Investor Belanda dan Indonesia

image

Dalam artikel sebelumnya, kami pernah menceritakan tentang pertemuan kami dengan Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy di acara Komunitas Startup Bandung. Pada waktu itu, Gibran menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai mahasiswa baru di ITB akhirnya memberikan inspirasi untuk membuat alat pemberi pakan ikan otomatis yang disebut eFishery. Gibran sudah memperkenalkan alat eFishery ini dalam banyak lomba yang ia ikuti dan berbagai pertemuan startup. Dan hasilnya, eFishery pun sempat menjuarai ICT Awards di tahun 2013, dan Get in The Ring di tahun berikutnya. Dari lomba-lomba tersebut, Gibran tak hanya mendapat hadiah berupa uang dalam jumlah yang besar, tapi juga kesempatan untuk mengrmbangkan koneksi hingga ke benua Afrika.

Pada saat itu kami berpikir, eFishery ini merupakan produk yang sangat potensial, dan bisa dikembangkan menjadi bisnis yang besar. Namun sejauh ini, mungkin tak banyak masyarakat Indonesia yang tahu tentang eFishery. Butuh pengembangan pasar yang agresif untuk mengenalkan alat ini ke seluruh peternak ikan di Indonesia. Dan akhirnya, kami mendapat kabat baik tersebut.

Alat eFishery yang Memikat Investor Asal Belanda dan Indonesia

Dalam sebuah pengumuman resmi yang disampaikan kepada redaksi Aitinesia, eFishery memberitahukan kalau mereka telah mendapatkan pendanaan dari 2 perusahaan, yaitu Aqua-Spark asal Belanda, dan Ideosource yang berasal dari Indonesia. Tidak disebutkan berapa jumlah pendanaan yang diberikan, namun istilah Pra-Seri A yang digunakan dalam pendanaan ini seperti menyiratkan kalau akan ada pendanaan kembali di kemudian hari.

Ketika ditanya tentang alasan mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk memberi pendanaan kepada eFiahery, Amy Novogratz (Partner di Aqua-Spark) mengatakan kalau eFishery punya potensi untuk memberikan dampak yang besar bagi industri perikanan di Indonesia dan di Dunia. “Indonesia memiliki (pasar yang potensial) sekitar 3,3 juta kolam ikan dan 2,7 juta peternakan ikan. Dan eFishery berpotensi untuk dapat menentukan standar baru untuk bisnis akuakultur dan membuat industrinya semakin transparan, berbasis data, dan akuntabel – semua faktor yang akan membuat semua bisnis di sektor ini menjadi lebih menarik di mata investor,” ujar Amy Novogratz.

image

eFishery memang tak hanya memberikan solusi hardware untuk pemberian pakan ikan, namun juga solusi software, di mana seorang petani bisa memantau secara real-time berapa banyak pakan yang disebar setiap harinya. Pemberian pakan sendiri merupakan salah satu aktivitas yang paling menguras biaya dalam industri peternakan ikan, mulai dari 50% hingga 80%. Dengan eFishery, aktivitas tersebut pun bisa menjadi semakin efisien. Hal itulah yang membuat eFishery menjadi semakin menarik.

Perikanan, Sebuah Industri Besar yang Bernilai 76 Triliun Rupiah

Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), lebih dari 96% aktivitas peternakan ikan di seluruh dunia terkonsentrasi di Asia. Di Indonesia saja, pangsa pasar industri perikanan bernilai sebesar Rp 76 triliun. Menurut Andrias Ekoyuono, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis di Ideosource, eFishery merupakan contoh sempurna dari sebuah perusahaan yang sedang menyelesaikan masalah nyata di pasar yang menguntungkan.

image

“Masalah yang kita coba pecahkan ialah tidak efisiennya kegiatan pemberian pakan di bisnis peternakan ikan,” jelas Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, Co-Founder dan CEO dari eFishery. “Saya menemukan masalah ini saat menjadi peternak ikan juga dulu. Para pekerja memberi pakan ikan secara tidak efisien, dan peternak tidak memiliki teknologi apapun untuk mengendalikan proses pemberian pakan. Kami menciptakan produk ini untuk membuat bisnis peternakan ikan dan udang menjadi semakin efisien, nyaman, dan memiliki akuntabilitas.”

Bagaimana Masa Depan eFishery Setelah Pendanaan Ini?

Selama 2 tahun berdiri, eFishery telah menjual ratusan produk mereka. Sejauh ini, mereka baru bisa menjual produk di Jawa, Sumatera, dan Bali. Saat ini, mereka juga tengah berdiskusi dengan 17.000 peternakan ikan dan udang di seluruh dunia, mulai dari Thailand, Singapura, India, Tiongkok, Brazil, dan sejumlah negara di Afrika.

Dengan pendanaan ini, menjangkau lebih banyak distributor, menemukan mitra kerja lokal, dan mengembangkan pasar secara agresif ke seluruh Indonesia. Apabila sukses, maka mereka bisa menguasai sektor perikanan Indonesia dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang mereka terapkan, karena sejauh ini belum ada pesaing dengan kualitas produk yang setara dengan mereka. Kita nantikan bagaimana kiprah startup asal kota Bandung ini di kemudian hari.

adityahadi

Editor of Aitinesia.com. A Kaskus' Enthusiast who have to read in order to continue his life.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInPinterestGoogle Plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>