Aksi Lokal, Visi Global & Bantu Sesama – Dua Pesan Gibran Huzaifah, CEO Cybreed kepada Founder dan CEO di Meetup Startup Bandung

Gibran Huzaifah, CEO Cybreed, yang baru saja menyambangi benua Afrika dan berkunjung ke Kenya untuk mempresentasikan karyanya di event bernama Global Entrepreneur Summit 2015, hadir di Pendopo Bandung untuk menjadi pembicara di Meetup Startup Bandung.

Gibran yang menyelesaikan pendidikan formalnya pada tahun 2012 dari jurusan Biologi ITB bercerita tentang banyak hal.

Gibran Huzaifah, CEO Cybreed Memaparkan Pengalamannya kepada Peserta Meetup Startup Bandung

Dia mengawali penyampaiannya yang diberi judul “Globalizing Startup, dari Bandung Untuk Dunia” dengan bercerita mengenai latar belakang dirinya. Dia datang ke kota Bandung setelah lulus dari sebuah SMA di Bekasi, yang kalau berdasarkan penuturan Gibran, sangat tidak populer. Tidak seorang pun yang dia tanya ketika berkenalan, mengetahui di mana letak SMA PB Soedirman 2 Bekasi. Atas dasar itu, Gibran menulis tentang sma dia di blog pribadinya.

Gibran ketika kuliah tinggal di Ujungberung, yang di dunia internasional sudah dikenal berkat aksi band metal bernama Burgerkill. Jatah uang bulanan yang diberikan orang tua Gibran saat itu  adalah enam ratus ribu atau dengan kata lain 20.000 rupiah per harinya. Dari 20.000 tersebut, habis 11.000 di ongkos transportasi.

Suatu hari, ketika bulan puasa, Gibran kehabisan uang sementara uang kiriman orang tuanya terlambat tiba. Dia berangkat kuliah dengan mengantungi 6000 rupiah. 5500 dipakai membayar ongkos, dan sisanya dia masukkan ke kencleng di masjid Salman. Dengan kondisi tak ada uang selama dua hari, dia hanya makan kurma dan minum air putih yang dibagikan di masjid Salman sebagai makanan untuk membatalkan puasa. Setelah 60 jam dalam kondisi demikian, sms dari ibunya datang yang mengabarkan bahwa jatah bulanan dia telah dikirimkan pagi harinya.

Keesokan harinya, ketika dia berjalan dia menemukan potongan koran yang memberitakan tentang kematian seseorang yang menderita kelaparan. Dia pernah merasakan lapar yang amat sangat sehingga sedikit banyak berempati kepada orang meninggal di berita yang dia baca.

Dari sini dia mendapatkan inspirasi untuk menentukan tujuan hidupnya. Dia ingin mengurangi problem kelaparan di Indonesia.

Pada tingkat 3 masa perkuliahannya, dia mengikuti perkuliahan tentang akua kultur. Di sini dia mendapatkan sedikit ide tentang bagaimana cara untuk mewujudkan tujuan dia semula. Gibran kemudian jatuh bangun membangun usahanya mulai dari beternak lele, menjual produk olahan dari lele, sampai kemudian dia akhirnya menemukan ide tentang pembuatan eFishery yang sekarang menjadi produk unggulan mereka.

Saat memasuki bagian ini, Gibran sempat diberitahu oleh panitia untuk mempersingkat pemaparannya karena waktu yang sempit. eFishery jadi tidak terlalu banyak diperkenalkan kepada hadirin malam itu yang duduk lesehan di Pendopo. Ke depannya, eFishery akan mampu mendeteksi jika di salah satu daerah akan memanen ikan, dan dari sana Cybreed akan membantu untuk mendapatkan pembeli hasil panen tersebut.

Ada dua pesan Gibran bagi para founder, CEO dan segenap tamu yang datang malam itu. Yang pertama adalah “Local action, global vision”. Maksudnya, meskipun startup yang kita jalani bermain di level lokal, namun visi dari startup kita tetap harus merupakan sesuatu yang bersifat global. Kedua adalah “Help each other”. Gibran menginginkan startup untuk mengedepankan kerjasama dalam mewujudkan visi, bukan justru saling sikut demi mengincar keuntungan belaka. Sebagai penutup, Gibran menyampaikan salah satu moto hidupnya. Bagi Gibran, dunia berubah bukan karena ide yang bertarung di kepala masing-masing orang, namun justru karena ada orang-orang yang bekerja mewujudkan ide-ide tersebut.

Setelah selesai menyampaikan presentasinya, Gibran ikut duduk bersama yang lain untuk mendengarkan Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang turut memberikan sambutan dan menyampaikan beberapa pesan. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Setelah diselingi oleh Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Gibran menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dari kepala-kepala yang penasaran.

Salah satu pertanyaan yang malam itu muncul adalah dari Kakatu, yang ingin mengetahui bagaimana cara menjaga moral dari tim yang kadang naik turun tergantung kepada mood masing-masing anggota. Jawaban Gibran sederhana saja, bagi orang-orang yang bergelut di Cybreed, hal yang membuat mereka bisa terus bertahan sampai sekarang dan mengerahkan segenap tenaganya untuk Cybreed adalah karena mereka memiliki visi yang sama dalam bekerja. Gibran juga menjawab pertanyaan mengenai apakah mereka akan ekspansi ke luar pulau Jawa, dan apakah mereka juga akan mencoba bidang lain misalnya peternakan.

Nawir

Seorang pembaca buku, pecinta alam semesta, penyuka filsafat, penonton film.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>