Adaptasi atau Mati

hawking

Judul diatas mungkin terdengar cukup dahsyat yah. Tapi itulah kenyataan nya kalau teknologi sudah menjadi bagian yang krusial dari satu industri. Dengan adanya demonstrasi para supir angkutan konvemsional baru-baru ini yang berujung anarkis, karena adanya persaingan dari penyedia angkutan berbasis online yang mereka anggap mengambil “jatah” mereka (padahal mereka juga buat apps, tapi apps nya sampah, mau gimana dong?).

Saya rasa lucu juga, yang demo kan supir angkutan roda 4 (yg roda 3 mah happening aja kayanya ;p). Nah, yang di pukulin supir angkutan roda 2. Bukannya supir2 “ojek online” ini udah punya musuh duluan? Terakhir namanya sih ojek pangkalan :). Lagian, bukannya taksi2 konvensional ini juga sbenernya ngambilin jatah angkutan umum lainnya yah? Kaya kereta, bus, becak, andong, dst.

Terus, siapa yang ambil jatah siapa?

Keterbatasan menghasilkan inovasi (ada orang yg bilang sama saya ” orang kere itu kreatif”) inovasi yang dipadukan dengan teknologi yang user friendly, bisa menjadikan adanya disrupsi (bahasa keren nya “disruption”, tapi saya gak keren – yah sudahlah). Contoh selain kasus ojek online ini sebenarnya sudah banyak, hanya mungkin ini jaman internet, jadi lebih cepet rame nya.

Henry ford sewaktu mendesain & menciptakan mobil T-model nya, itu kan mendisrupt pasar transportasi darat yang lazim nya menggunakan kuda (akibatnya banyak kuda yang di PHK dan stress, trus jadi poni XD). Seperti halnya Wright brothers sewaktu menciptakan pesawat terbang (kapal laut untuk penumpang yg jadi korban). Apakah pemilik kuda & kapal laut berdemo di darat dan dilaut? Ada gitu yg lagi naik andong disuru turun trus kuda nya dilepasin? Rugi atuh. Ada emgnya kapal laut lagi lewat, trus disuru turunin penumpang nya semua, biar pada berenang aja sama ubur2? Ga ada kayanya mah. Dan ujung2 nya juga, kita sebagai mahluk hidup yang berakal, menemukan cara untuk mendayagunakan kuda & kapal laut tersebut toh ?!. Sampe sekarang kuda masih ada kan? Naek kuda malahan lebih mahal daripada mobil/motor, 100 meter bisa 30 rebu :D. Kapal laut juga, ada yang jadi cruise ship malahan, jalan nya pelan2 biar liburan nya lebih lama (mahal pula).

Jadi menurut saya mah, para pihak transportasi konvensional ini, harusnya beradaptasi dengan kemajuan zaman. Karena para pelanggan sekarang sudah lebih “pintar” dan juga informasi sudah ada dimana2. Kalau ada orang yang bisa membuat aplikasi yang membantu masyarakat, kenapa mereka tidak bisa? Pasti bisa kalau mau berusaha. Pertanyaan nya, maukah mereka berusaha? Karena pada akhirnya hukum alam berbicara, adaptasi atau mati.

 

Jakarta Timur, 5/4/2016

Fikri Akbar

I write things I think interesting.

More Posts

1 Response

  1. deny says:

    Kenapa ya??? Penyedia layanan taksi yg kmren anarkis tidak mengikiti langkah seperti penyedia angkutan berbasis online.. Misalkan buat apps online yg sama gtuu… Perkuat promo .. Gampaang.. Tinggal dr manajement nya aja yg berfikir skrng.. Siapa yg siap siapa yg gk siap.. Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>