2019, Tahun Penuh Kegembiraan Bagi Silicon Valley

Pada tanggal 29 Maret 2019 kemarin, aplikasi transportasi online asal Amerika Serikat yang bernama Lyft resmi masuk bursa saham ternama di negeri Paman Sam tersebut, yaitu Nasdaq. Dengan simbol LYFT, saham startup pesaing Uber tersebut kini bisa diperjual belikan dengan bebas.

Biasanya, petinggi perusahaan yang masuk bursa saham akan langsung terbang ke New York dan membunyikan bel tanda mulai perdagangan saham pada hari tersebut di Wall Street. Namun co-founder Lyft Logan Green dan John Zimmer lebih memilih untuk membunyikan bel tersebut di Los Angeles, yang merupakan pasar terbesar mereka.

“Kami ingin memberikan kesan bahwa kamu bisa berinvestasi pada masyarakat, sembari membangun bisnis yang besar. Sangat menyenangkan bisa membunyikan bel (awal perdagangan saham) bersama beberapa komunitas pengemudi kami. Banyak dari mereka yang juga bisa berpartisipasi dalam IPO ini karena bonus yang kami berikan,” ujar Zimmer ketika ditanya apa alasan dia tidak membunyikan bel di Wall Street.

Zimmer tentu bebas mau berkata apa pun, karena faktanya ia berhasil mengumpulkan dana segar sebesar US$2,3 miliar (sekitar Rp32.7 triliun) dari IPO tersebut. Hal ini membuat nilai perusahaan Lyft setelah IPO (market cap) menjadi US$24 miliar (sekitar Rp341,7 triliun), naik 1,6 kali lipat dari valuasi mereka sebelum IPO yang hanya US$15,1 miliar (sekitar Rp215 triliun).

Masuknya Lyft ke bursa saham pun menjadi peluang bagi para investor mereka sebelumnya untuk “mencairkan” saham mereka. Seperti yang kita tahu, Lyft sebelumnya telah menerima pendanaan dari Rakuten, Mayfield Fund, Alibaba Group, K9 Ventures, Didi Chuxing, Founders Fund, CapitalG (sebelumnya bernama Google Capital), hingga Andreessen Horowitz. Para investor tersebut memberikan dana kepada Lyft, dan mendapat sebagian saham Lyft sebagai gantinya.

Namun hingga saat ini para investor tersebut belum sama sekali mendapat keuntungan, karena bisnis Lyft sendiri memang masih merugi. Dan masuknya Lyft ke bursa saham ini merupakan saat yang tepat untuk mendapat keuntungan, dengan cara menjual saham yang mereka miliki ke bursa saham. Harapan mereka, uang hasil penjualan saham tersebut akan lebih besar dari jumlah uang yang mereka berikan kepada Lyft sebagai investasi. Inilah salah satu mimpi dari para investor startup di seluruh dunia.

Lyft pun bukan startup terakhir yang masuk bursa saham di tahun 2019 ini. Setelah mereka, akan ada startup besar lain, seperti Slack, Pinterest, dan Uber. Ketiganya diperkirakan akan mempunyai valuasi di atas US$10 miliar (sekitar Rp142,4 triliun) ketika IPO nanti. Artinya, akan semakin banyak pula investor startup yang mendapat keuntungan dari investasi mereka, dan menjadi bertambah kaya. Jumlah tersebut pun bisa bertambah banyak bila kita menghitung jumlah founder dan karyawan dari para startup tersebut yang juga mempunyai saham di startup mereka masing-masing.

Tentu cerita yang indah bukan, bagi komunitas startup di Silicon Valley?

Itulah mengapa proses masuknya Lyft ke bursa saham, serta minat investor kepada saham Lyft di bursa saham, menjadi penting. Bila Lyft bisa membuktikan bahwa mereka berhasil membangun bisnis yang menarik minat investor retail di bursa, maka angin segar tersebut pun diperkirakan akan turut menerpa para startup lain yang akan masuk bursa saham setelah mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>